RADAR JEMBER - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, keberadaan toko buku bekas semakin jarang dijumpai.
Banyak orang kini lebih memilih membaca melalui gawai atau mencari referensi secara daring. Namun di Jalan Kenanga Nomor 2, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, masih berdiri Toko Buku Antik Mustaqim yang tetap setia melayani para pencinta buku-buku lawas.
Toko yang sekaligus difungsikan sebagai rumah baca itu menyimpan ribuan koleksi buku dari berbagai bidang, mulai dari sastra, sejarah, agama, hingga buku-buku referensi yang sudah sulit ditemukan di pasaran.
Meski usianya telah puluhan tahun, tempat ini masih menjadi tujuan mahasiswa, peneliti, kolektor, hingga pemburu buku langka dari berbagai daerah.
Baca Juga: Info Laka Lantas Jember: Oleng! Kawasaki Ninja Tabrak Truk Box, Korban Meninggal di Lokasi
Mustaqim, pemilik toko, mengakui perkembangan teknologi telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam membaca.
Menurutnya, generasi muda kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan telepon pintar sehingga minat membaca buku cetak tidak lagi sebesar beberapa dekade lalu. Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah.
Ia tetap mempertahankan tokonya karena masih ada pengunjung yang membutuhkan buku-buku fisik, terutama referensi lama yang belum tersedia dalam bentuk digital.
Perjalanan Mustaqim membangun toko buku ini juga tidak mudah, Ia memulai usahanya dari hasil berjualan koran dan mengumpulkan buku-buku bekas sedikit demi sedikit hingga akhirnya mampu membuka lapak sendiri.
Baca Juga: Gedung Jember Nusantara Disulap Jadi JCC, Siap Tampung Ratusan Anak Muda Kreatif
Bahkan, Mustaqim baru belajar membaca setelah mendapat bantuan seorang mahasiswa Universitas Jember yang rutin membeli buku di tempatnya.
Kemampuan membaca itu kemudian menjadi bekal baginya untuk terus mengembangkan usaha.
Seiring berjalannya waktu, Mustaqim memilih menjadikan rumahnya sebagai rumah baca.
Selain membeli buku, pengunjung dipersilakan membaca koleksi yang tersedia atau sekadar menikmati suasana tenang di antara rak-rak yang dipenuhi buku tua.
Nuansa klasik dengan aroma khas kertas lama juga menjadi daya tarik tersendiri, bahkan bagi anak-anak muda yang datang untuk mengenal lebih dekat dunia literasi.
Meski tren membaca telah banyak bergeser ke platform digital, Toko Buku Antik Mustaqim masih memiliki pengunjung setia.
Mahasiswa tingkat akhir kerap datang mencari referensi untuk penyusunan skripsi, sementara kolektor buku berburu koleksi yang sudah tidak lagi dicetak.
Pengunjung pun tidak hanya berasal dari Jember, tetapi juga dari Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, hingga Yogyakarta.
Bagi Mustaqim, mempertahankan toko buku bukan semata soal berdagang, Ia ingin buku-buku lama tetap memiliki tempat dan dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang membutuhkan.
Di tengah perubahan zaman yang serba digital, Toko Buku Antik Mustaqim menjadi bukti bahwa buku cetak masih memiliki nilai, sekaligus menjadi ruang yang menjaga warisan pengetahuan agar tidak hilang ditelan waktu.
Penulis: Siti Roihani
Editor : Imron Hidayatullahh