Radar Jember – Kondisi sekolah di pinggiran wilayah benar-benar mengalami tantangan berat pada tahun ajaran 2026/2027.
Kekurangan murid, kondisi gedung yang memprihatinkan, dan lokasi yang jauh dari pemukiman warga menjadi faktor utama. Hal ini terjadi, salah satunya karena sekolah berada di lingkungan perkebunan.
Salah satu contohnya adalah SDN Curahnongko 04, Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo. Gedungnya berada di lingkungan rumah karyawan Afdeling Guciputih, PTP Nusantara 1 Rayon 5 Kebun Kotta Blater.
Total siswa di sekolah ini hanya berjumlah 22 orang, yang terdiri dari kelas 1 (satu siswa), kelas 2 (lima siswa), kelas 3 (lima siswa), kelas 4 (empat siswa), kelas 5 (lima siswa), dan kelas 6 (dua siswa).
Dari enam kelas yang ada dengan total 22 siswa, akhirnya hanya dua ruang kelas yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).
Hal ini disebabkan oleh tiga ruang kelas lainnya yang rusak parah. Akibatnya, satu ruang kelas harus menampung tiga tingkat kelas sekaligus. Satu ruangan diisi oleh gabungan siswa kelas 1, 2, dan 3, sementara satu ruangan lainnya diisi oleh gabungan siswa kelas 4, 5, dan 6.
Samsul Arifin, Plt Kepala SDN Curahnongko 04, membenarkan bahwa enam kelas hanya menempati dua ruang kelas. Kondisi ini terpaksa dilakukan karena hanya tiga ruang kelas yang layak untuk digunakan.
"Dari tiga ruang kelas yang layak itu, dua ruang kelas digunakan untuk menampung enam kelas, dan satu ruangan lagi digunakan untuk ruang guru dan kepala sekolah," jelas Samsul.
Samsul mengakui bahwa proses belajar mengajar menjadi terganggu dengan adanya penggabungan kelas ini.
"Ya, ketika guru mengajar memang terganggu, tetapi karena memang kekurangan ruang kelas. Sehingga satu kelas diisi tiga kelas, seperti kelas 1, 2, dan 3 digabung dalam satu kelas. Demikian juga satu kelas lainnya ditempati oleh kelas 4, 5, dan 6," tambahnya.
Meskipun menghadapi keterbatasan, Samsul menegaskan bahwa semangat para guru tetap tinggi. "Alhamdulillah, seluruh guru mempunyai semangat, meskipun hanya mengajar dengan jumlah siswa yang sedikit. Karena bagaimanapun, guru harus maksimal mengajar siswanya."
Untuk tahun ajaran 2026/2027, siswa kelas satu hanya ada satu orang. Hal ini dikarenakan siswa yang bersekolah di sini hanyalah putra dari karyawan perkebunan. "Jadi, yang sekolah hanya putranya orang yang kerja di perkebunan," kata Samsul yang juga Kepala SDN Curahnongko 02 itu.
Selain masalah ruang kelas, lokasi sekolah juga sulit jaringan telepon seluler, beruntung ada wifi. "Alhamdulillah, peran orang tua juga sangat mendukung menyekolahkan putra-putrinya, sehingga yang sekolah di SDN Curahnongko 04 hanya mengandalkan anaknya pekerja kebun Kotta Blater."
Lebih lanjut, Samsul menjelaskan bahwa proses belajar mengajar terganggu saat guru memberikan pelajaran karena satu kelas digunakan oleh tiga tingkat sekaligus tanpa adanya sekat.
Sehingga, guru harus mengajar secara bergantian. Ia berharap dinas terkait memberikan perhatian untuk SDN Curahnongko 04.
"Kalau dilihat dari jalan menuju perkebunan, dikira sudah tidak ada sekolahan, karena bangunan yang rusak parah itu berada di pinggir jalan. Sedangkan ruang kelas yang masih layak ditempati itu tidak terlihat dari jalan," pungkas Samsul. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh