Radar Jember - Tumpukan sampah yang diduga berasal dari dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) dikeluhkan warga Dusun Kerajaan Barat, Desa Candijati, Kecamatan Arjasa.
Limbah sisa makanan yang dibuang di lahan dekat permukiman itu menimbulkan bau menyengat hingga mengundang lalat dan belatung.
Keluhan tersebut mencuat dalam unggahan video pada (20/7) yang direkam warga beredar. Kondisi itu pun juga masih terjadi hingga kemarin (24/7).
“Masih dibuang di sana sampah dari dapur MBG,” ucap Supriadi warga Arjasa, kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (24/7).
Dari foto yang lokasi sampah dapur MBG itu berada di lahan kosong dan dekat permukiman warga. Supriadi menjelaskan, tanah kosong tersebut memang milik pengelola dapur MBG.
Walau itu tanahnya sendiri, pihaknya berharap lebih bijak. Karena, sampah itu berbau menyengat.
“Bukan sampah organik full seratus persen yang dibuang. Plastik-platiknya juga turut ikut,” tuturnya.
Sementara, dalam rekaman video itu memperlihatkan tumpukan sampah memenuhi sebuah lahan terbuka di tengah permukiman.
Plastik kemasan bercampur sisa sayuran dan makanan yang mulai membusuk, lokasinya pun hanya sekitar lima meter dari rumah warga.
Prayogi, salah seorang warga, mengatakan pembuangan sampah itu mulai terjadi sejak dapur MBG kembali beroperasi usai libur sekolah.
Hampir setiap sore, kendaraan datang membawa limbah dapur dan membuangnya di lokasi tersebut. "Mulai buka MBG setelah liburan itu sudah dibuang di sini,” terangnya.
Menurut Prayogi, sebagian besar limbah berupa sisa sayuran dan makanan yang tidak habis dibagikan. Kondisi itu membuat aroma tak sedap semakin terasa, terutama ketika cuaca panas.
Warga yang rumahnya berdekatan dengan lokasi pembuangan mengaku paling terdampak. "Banyak sisa sayuran sama makanan yang tidak habis dibuang ke sini. Yang paling terasa ya baunya, sangat mengganggu warga," katanya.
Dikonfirmasi terpisah, Pengelola SPPG Candijati Zainul Arifin mengakui sampah tersebut berasal dari dapurnya. Ia menyebut langkah itu dilakukan sementara karena tempat pembuangan akhir (TPA) tidak lagi menerima sampah akibat kapasitas yang sudah penuh.
Menurutnya, sampah organik itu sengaja dimasukkan ke dalam lubang galian di atas tanah milik pribadi. Setelah lubang penuh, rencananya akan ditutup dengan tanah, lalu membuat lubang baru di sisi lainnya.
"Itu sisa sampah basah dari sayur-sayuran. Kami buatkan lubang, nanti kalau hampir penuh ditutup, kemudian menggali lagi di sebelahnya. Tanah itu milik saya pribadi. Kalau memang ada keluhan warga tentu akan kami perbaiki," ujarnya.
Zainul Arifin menambahkan pihaknya tidak ingin persoalan sampah berlarut-larut.
Dalam waktu dekat, pengelola berencana berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember untuk mencari pola pengelolaan sampah yang lebih tepat sehingga tidak lagi menimbulkan gangguan bagi warga di sekitar dapur MBG. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh