Radar Jember – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru kelas 1 SD memang menjadi momen krusial.
Tak hanya di sekolah perkotaan, fenomena siswa yang belum berani lepas dari pendampingan orang tua saat hari pertama sekolah juga jamak ditemui di sekolah-sekolah pinggiran, salah satunya di SDN Pakis 01, Kecamatan Panti.
Memasuki hari ketiga MPLS, pemandangan unik terlihat di sejumlah ruang kelas. Beberapa ibu tampak setia duduk di belakang kelas, menunggu putra-putrinya yang sedang mengikuti rangkaian pengenalan lingkungan sekolah.
Baca Juga: Korupsi Sosraperda Dewan Terbukti, Kejari Jember Bidik Tersangka Baru
Bagi anak-anak yang baru lulus dari TK, masa transisi ini memang sering kali membuat mereka merasa cemas jika harus langsung ditinggal sendirian.
Kepala SDN Pakis 01, Baharianto, mengungkapkan bahwa pihaknya sangat memahami kondisi tersebut.
"Seperti Titis Sintia, salah satu wali murid dari Siti Ansyaul Jannah, terpaksa harus berada di ruang kelas. Anaknya masih kerap mencari sosok ibunya saat berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Demi kenyamanan belajar anak, kami memberikan ruang agar orang tua tetap bisa mendampingi di dalam kelas," ujar pria yang akrab disapa Bahar ini.
Menurut Bahar, fenomena ini hampir terjadi setiap tahun ajaran baru. Ia menegaskan bahwa pendampingan ini dilakukan agar anak merasa aman dan tidak menangis saat proses pembelajaran berlangsung.
Di sela-sela MPLS, pihak sekolah juga melakukan pendataan kesehatan dasar bagi 46 siswa kelas 1, yang terbagi dalam dua rombongan belajar (Kelas A dan B).
Guru kelas, Mastu’ah dan Siti Ainul Fitriah, tampak telaten melakukan pengukuran fisik siswa, mulai dari tinggi badan, berat badan, hingga pengecekan kesehatan panca indra seperti mata dan hidung.
"Data ini sangat penting sebagai langkah deteksi dini kesehatan anak. Hasilnya nanti akan menjadi acuan pihak sekolah untuk memantau tumbuh kembang mereka ke depannya," jelas Bahar.
Selain pemeriksaan fisik, siswa diajak berkeliling lingkungan sekolah untuk mengenal ruang kelas, guru, serta teman-teman sekelasnya. Total siswa di SDN Pakis 01 saat ini mencapai 337 anak, dengan masing-masing kelas 1 A dan 1 B diisi oleh 23 siswa.
Di balik hangatnya proses MPLS, Baharianto juga menyoroti tantangan khas yang dihadapi sekolah di wilayah pinggiran terkait sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Kepala SDN Pakis 01 itu menjelaskan bahwa pola pikir orang tua di wilayah tersebut memiliki keunikan tersendiri.
"Tantangan di sekolah pinggiran itu berbeda dengan perkotaan. Kadang, masih ada orang tua yang datang untuk mendaftarkan anaknya meski jadwal PPDB resmi sudah ditutup. Namun, di sisi lain, saya justru melihat ini sebagai bentuk kepedulian yang sangat tinggi dari para orang tua untuk memastikan anaknya tetap bersekolah," ungkap mantan Kepala SDN Badean 01, Kecamatan Bangsalsari tersebut.
Meski pendaftaran sering kali dilakukan di luar jadwal, pihak sekolah tetap berupaya mengakomodasi dengan tetap berpegang pada aturan yang berlaku.
Bagi Bahar, peran aktif orang tua dan guru yang saling mengisi selama MPLS ini adalah kunci utama untuk membangun kepercayaan diri anak dalam menempuh jenjang pendidikan dasar. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh