Radar Jember – Harapan petani di Desa Tempurejo untuk menikmati hasil panen kembali pupus. Selama dua musim tanam berturut-turut, tanaman padi mereka diserang hama tikus sehingga banyak sawah mengalami gagal panen.
Serangan hama terjadi hampir di seluruh hamparan sawah. Tikus merusak tanaman sejak fase pertumbuhan hingga menjelang panen. Akibatnya, banyak batang padi patah dan bulir padi habis dimakan sebelum sempat dipanen.
Petani setempat, Suhardi, mengatakan serangan tikus sudah berlangsung selama dua periode tanam terakhir. Kondisi tersebut membuat hasil panen merosot drastis dan kerugian yang dialami petani terus bertambah.
"Sudah dua kali musim panen kami gagal karena serangan tikus. Hampir setiap malam tikus masuk ke sawah dan merusak tanaman padi," ujarnya.
Menurut Suhardi, sebagian petani bahkan terpaksa memanen lebih awal untuk menyelamatkan sisa tanaman yang masih bisa dipanen. Meski demikian, kualitas gabah menjadi kurang maksimal sehingga nilai jualnya ikut menurun.
Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan petani untuk mengendalikan hama. Mulai dari memasang jebakan, melakukan gropyokan, hingga memberikan umpan beracun. Namun, populasi tikus yang terus berkembang membuat serangan sulit dikendalikan.
"Kalau hanya dilakukan sendiri-sendiri hasilnya kurang maksimal. Tikusnya masih banyak dan terus berpindah dari satu sawah ke sawah lainnya," katanya.
Selain kehilangan hasil panen, petani juga harus menanggung kerugian akibat biaya produksi yang sudah dikeluarkan sejak awal musim tanam. Pengeluaran untuk membeli benih, pupuk, pestisida, hingga biaya perawatan tanaman tidak sebanding dengan hasil panen yang diperoleh.
Karena itu, para petani berharap ada langkah pengendalian yang dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah dan instansi terkait.
Menurut mereka, pengendalian serentak menjadi cara yang lebih efektif untuk menekan populasi tikus dibandingkan dilakukan secara individu.
"Kami berharap ada pendampingan dan pengendalian hama secara bersama-sama. Jangan sampai musim tanam berikutnya kembali gagal panen. Kalau kondisi ini terus berlanjut, petani akan semakin kesulitan menutup biaya produksi," pungkas Suhardi. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh