Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Negeri Ini Butuh Sahrial Abadi, Bukan Para Koruptor

M. Ainul Budi
Penulis: M. Ainul Budi❯
Negeri Ini Butuh Sahrial Abadi, Bukan Para Koruptor
Negeri Ini Butuh Sahrial Abadi, Bukan Para Koruptor

Advertisement

RADAR JEMBER - Banyak anggota Partai Koptagul merekomendasikan saya menarasikan sosok Sahrial Abadi. Saya riset kecil, ternyata beliau sosok inspiratif yang mengajak warga pantungan membangun jembatan. Kok ada manusia seperti itu di tengah korupsi yang sudah akut, sudah jadi budaya. Mari kita kenalan sosok langka ini sambil seruput Koptagul, wak!

Ceritanya sederhana, tapi tamparannya keras. Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, putus dihantam banjir bandang pada November 2025. Warga menunggu pemerintah. Sebulan... dua bulan... tiga bulan... sampai hampir delapan bulan.

Delapan bulan itu bukan waktu sebentar. Pisang sudah tiga kali berbuah. Cabai sudah beberapa kali panen. Bahkan gosip artis sudah berganti musim berkali-kali. Yang belum datang cuma kepastian pembangunan. Mungkin warga akhirnya berpikir, "Kalau terus nunggu, nanti cucu kami yang gunting pita."

Advertisement

Akhirnya mereka bergerak. Dipimpin Sahrial Abadi, warga patungan. Ada menyumbang uang, ada menyumbang tenaga, ada menyumbang BBM buat ekskavator. Total dana terkumpul lebih dari Rp1,08 miliar.

Hebatnya lagi, uang itu tidak menguap ke mana-mana. Sekitar Rp526 juta dipakai memperbaiki badan jembatan dan mengaspalnya. Sisanya sekitar Rp555 juta digunakan membangun dinding penahan tanah agar tidak longsor lagi, sekaligus fasilitas umum dan tempat ibadah.

Ajaib. Ternyata uang bisa benar-benar berubah menjadi jembatan. Di negeri yang sering mendengar istilah "kebocoran anggaran", peristiwa ini rasanya seperti menemukan Silpester ditangkap kejaksaan.

Advertisement

Lalu datanglah babak yang membuat netizen memijat pelipis. Pemerintah mengumumkan akan membangun jembatan permanen di lokasi yang sama dengan nilai sekitar Rp700 miliar. Tujuh ratus miliar. Angka yang kalau ditulis nolnya kebanyakan, orang bisa salah hitung lalu pindah profesi menjadi auditor.

Tentu saja spesifikasi jembatan permanen berbeda dengan jembatan darurat swadaya masyarakat. Standar konstruksi, daya tahan, dan desainnya memang tidak sama. Tapi publik tetap tak bisa menahan senyum miring melihat jarak angka yang seperti bumi dan galaksi.

Netizen langsung berimajinasi. "Jembatannya nanti bisa dilewati pesawat?" "Ada lift ke bulan?" "Aspalnya pakai campuran saffron?" "Kalau hujan, otomatis keluar payung?" Kalau tidak bercanda, nanti malah nangis.

Menteri PU, Dody Hanggodo, datang memberikan apresiasi. Beliau menyebut hasil kerja warga sebagai jembatan emas gotong royong. Pemerintah juga menganggarkan sekitar Rp400 juta untuk memperkuat struktur jembatan tersebut. Bahkan, jembatan swadaya itu akan dipertahankan sebagai monumen gotong royong ketika jembatan permanen selesai dibangun.

Advertisement

Artikel Terkait

Daftar Alasan Baru DPR yang Bikin RUU Perampasan Aset Awet Jadi Pajangan Senayan - Radar Jember

Daftar Alasan Baru DPR yang Bikin RUU Perampasan Aset Awet Jadi Pajangan Senayan - Radar Jember

Alih-alih mempercepat pengesahan instrumen vital pemiskinan koruptor ini, Senayan justru kembali memunculkan tumpukan alasan klasik: harmonisasi regulasi dan kehati-hatian hukum perdata.

Siapa Sangka Ada Lapangan Berstandar FIFA di Jember! Ternyata Disini Lokasinya

Siapa Sangka Ada Lapangan Berstandar FIFA di Jember! Ternyata Disini Lokasinya

Sekolah Rakyat yang berada di Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember terus menunjukkan progres positif. Bahkan, dilansir dari instagram resmi Kementerian Pekerjaan Umum, sekolah rakyat itu memiliki beberapa fasilitas jempola

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer