
RADAR JEMBER - Banyak anggota Partai Koptagul merekomendasikan saya menarasikan sosok Sahrial Abadi. Saya riset kecil, ternyata beliau sosok inspiratif yang mengajak warga pantungan membangun jembatan. Kok ada manusia seperti itu di tengah korupsi yang sudah akut, sudah jadi budaya. Mari kita kenalan sosok langka ini sambil seruput Koptagul, wak!
Ceritanya sederhana, tapi tamparannya keras. Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, putus dihantam banjir bandang pada November 2025. Warga menunggu pemerintah. Sebulan... dua bulan... tiga bulan... sampai hampir delapan bulan.
Delapan bulan itu bukan waktu sebentar. Pisang sudah tiga kali berbuah. Cabai sudah beberapa kali panen. Bahkan gosip artis sudah berganti musim berkali-kali. Yang belum datang cuma kepastian pembangunan. Mungkin warga akhirnya berpikir, "Kalau terus nunggu, nanti cucu kami yang gunting pita."
Akhirnya mereka bergerak. Dipimpin Sahrial Abadi, warga patungan. Ada menyumbang uang, ada menyumbang tenaga, ada menyumbang BBM buat ekskavator. Total dana terkumpul lebih dari Rp1,08 miliar.
Hebatnya lagi, uang itu tidak menguap ke mana-mana. Sekitar Rp526 juta dipakai memperbaiki badan jembatan dan mengaspalnya. Sisanya sekitar Rp555 juta digunakan membangun dinding penahan tanah agar tidak longsor lagi, sekaligus fasilitas umum dan tempat ibadah.
Ajaib. Ternyata uang bisa benar-benar berubah menjadi jembatan. Di negeri yang sering mendengar istilah "kebocoran anggaran", peristiwa ini rasanya seperti menemukan Silpester ditangkap kejaksaan.
Lalu datanglah babak yang membuat netizen memijat pelipis. Pemerintah mengumumkan akan membangun jembatan permanen di lokasi yang sama dengan nilai sekitar Rp700 miliar. Tujuh ratus miliar. Angka yang kalau ditulis nolnya kebanyakan, orang bisa salah hitung lalu pindah profesi menjadi auditor.
Tentu saja spesifikasi jembatan permanen berbeda dengan jembatan darurat swadaya masyarakat. Standar konstruksi, daya tahan, dan desainnya memang tidak sama. Tapi publik tetap tak bisa menahan senyum miring melihat jarak angka yang seperti bumi dan galaksi.
Netizen langsung berimajinasi. "Jembatannya nanti bisa dilewati pesawat?" "Ada lift ke bulan?" "Aspalnya pakai campuran saffron?" "Kalau hujan, otomatis keluar payung?" Kalau tidak bercanda, nanti malah nangis.
Menteri PU, Dody Hanggodo, datang memberikan apresiasi. Beliau menyebut hasil kerja warga sebagai jembatan emas gotong royong. Pemerintah juga menganggarkan sekitar Rp400 juta untuk memperkuat struktur jembatan tersebut. Bahkan, jembatan swadaya itu akan dipertahankan sebagai monumen gotong royong ketika jembatan permanen selesai dibangun.



