Radar Jember – Persoalan imunisasi anak di Kabupaten Jember kini tidak lagi sebatas pada ketersediaan vaksin maupun tenaga kesehatan.
Tantangan terbesar justru berada di lapangan, yakni menemukan anak-anak yang sama sekali belum pernah menerima imunisasi atau dikenal dengan istilah zero dose.
Kelompok inilah yang menjadi perhatian utama pemerintah karena berisiko tinggi terserang penyakit menular sekaligus menjadi mata rantai penyebaran penyakit di masyarakat.
Baca Juga: Daftar Alasan Baru DPR yang Bikin RUU Perampasan Aset Awet Jadi Pajangan Senayan - Radar Jember
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Jember bersama Dinas Kesehatan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB), UNICEF Indonesia, serta kalangan akademisi terus memperkuat strategi percepatan cakupan imunisasi.
Target yang dikejar pun tidak main-main. Sedikitnya 95 persen anak di Jember harus mendapatkan imunisasi lengkap agar terbentuk kekebalan komunal (herd immunity).
Target tersebut menjadi pembahasan utama dalam Workshop Akselerasi Imunisasi yang digelar di Stikes Bhakti Al-Qodiri Jember, belum lama ini.
Kegiatan tersebut mempertemukan tenaga kesehatan, akademisi, hingga pemangku kepentingan untuk menyusun langkah percepatan imunisasi, terutama bagi anak-anak yang belum tersentuh layanan kesehatan.
Akademisi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Nyoman Anita Damayanti, menegaskan bahwa imunisasi merupakan hak dasar setiap anak.
Menurutnya, cakupan imunisasi minimal 95 persen menjadi syarat penting untuk membentuk kekebalan komunal sehingga penyebaran penyakit dapat ditekan.
"Imunisasi itu hak anak. Target 95 persen ini agar mereka tidak tertular dan tidak menjadi penular penyakit di lingkungannya," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (30/6).
Ia menjelaskan, ketika sebagian besar anak telah memiliki kekebalan melalui imunisasi, maka anak-anak yang belum dapat menerima vaksin karena alasan medis juga akan ikut terlindungi.
Sebaliknya, jika cakupan imunisasi rendah, risiko munculnya kembali penyakit yang sebenarnya dapat dicegah akan semakin besar.
Namun, mewujudkan target tersebut bukan pekerjaan yang dapat dilakukan Dinas Kesehatan seorang diri. Pakar Kesehatan UNICEF Indonesia, Ermi Ndoen, menilai keberhasilan imunisasi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga keluarga.
Mengacu pada prinsip It takes a village to raise a child, Ermi menegaskan bahwa perlindungan terhadap anak merupakan tanggung jawab bersama. Seluruh pihak harus memiliki komitmen yang sama untuk memastikan tidak ada satu pun anak yang terlewat dari layanan imunisasi.
Sementara itu, Sekretaris Dinkes PPKB Jember, Ni Ketut Ardhani, mengakui tantangan di lapangan kini jauh lebih kompleks dibanding sekadar penyediaan vaksin maupun tenaga kesehatan.
"Tantangan saat ini bukan hanya menyediakan vaksin dan tenaga kesehatan. Bahkan jauh lebih besar dan penting yaitu memastikan sasaran itu benar-benar datang ke fasilitas kesehatan, atau justru didatangi petugas," ujarnya.
Menurut Ketut, masih terdapat anak-anak yang belum memperoleh imunisasi karena berbagai faktor. Mulai dari orang tua yang belum memahami pentingnya imunisasi, kesibukan keluarga, lokasi tempat tinggal yang jauh dari fasilitas kesehatan, hingga masih adanya keraguan akibat informasi yang keliru mengenai vaksin.
Untuk menjangkau kelompok tersebut, Pemkab Jember tengah mematangkan strategi jemput bola melalui program Homecare yang menjadi salah satu program prioritas Bupati Jember Muhammad Fawait.
Program ini diharapkan tidak hanya menghadirkan layanan kesehatan ke rumah-rumah warga, tetapi juga menjadi sarana memastikan tidak ada lagi anak yang masuk kategori zero dose.
Dengan kolaborasi lintas sektor dan pendekatan langsung kepada masyarakat, pemerintah berharap cakupan imunisasi di Jember terus meningkat.
Selain melindungi setiap anak dari penyakit berbahaya, keberhasilan mencapai angka 95 persen juga menjadi kunci terbentuknya kekebalan komunal sehingga penyebaran penyakit menular dapat ditekan secara signifikan. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh