Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jauh-Jauh Datang dari Bali ke Jember, Wanita Ini Bongkar Alasan Nekat Ikut Pethuk Jodoh Massal, Isinya Mengejutkan

Viona Rj • Senin, 6 Juli 2026 | 06:00 WIB
TATAP MUKA: Suasana saling bertemu pria dan perempuan yang ingin mencari jodoh pada acara Pethuk Jodoh di salah satu kawasan di Kecamatan Kaliwates, (14/6). (ALVIONIZA/RADAR JEMBER)
TATAP MUKA: Suasana saling bertemu pria dan perempuan yang ingin mencari jodoh pada acara Pethuk Jodoh di salah satu kawasan di Kecamatan Kaliwates, (14/6). (ALVIONIZA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Menemukan belahan jiwa di era modern ternyata tidak semudah menggeser layar ponsel ke kanan atau ke kiri. Di tengah gempuran aplikasi kencan daring yang sering kali berakhir zonk, sebuah gerakan komparatif muncul di Jember. Wadah unik itu bernama Pethuk Jodoh.

Suasana sebuah aula di kawasan Kaliwates pada Minggu (14/6) pagi itu mendadak penuh dengan debaran. Mengusung tema "Temukan Teman, Menjemput Jodoh", agenda ini menjadi magnet bagi 400 pendaftar berusia 20 hingga 40 tahun yang sedang berikhtiar mencari pelabuhan hati terakhir mereka.

Ketua panitia kegiatan, Ghifar Alfarizki menceritakan, gerakan ini sejatinya lahir dari kegelisahan komunal di lingkaran pergaulannya. Ia kerap mendengarkan keluhan kerabat dan sahabat dekat yang mapan secara usia maupun finansial, namun belum juga menemukan hilal pasangan hidup.

Baca Juga: Proyeksi Jangka Panjang! Kejurwil V Pelti Jember, Sekaligus Pantau Petenis Lapis Kedua Porprov 2027

"Awalnya dari obrolan warung kopi. Banyak teman dekat yang sebenarnya sudah siap lahir batin, tapi bingung mau melangkah ke pernikahan karena tidak ada calonnya. Dari sana kami berinisiatif menyediakan wadah pertemuan yang terarah, aman, dan positif," kenang Ghifar.

Meski bertajuk biro jodoh massal, Ghifar menggarisbawahi bahwa panitia tidak memiliki tongkat sihir untuk memaksakan perasaan antarpeserta. Komunitas ini murni bertindak sebagai fasilitator pemeta peluang.

"Jodoh itu rahasia langit yang tetap butuh dijemput dengan ikhtiar bumi. Kami hanya mempertemukan orang-orang dengan visi yang sama. Urusan klik atau tidak, biarkan perasaan itu tumbuh organik tanpa paksaan," imbuhnya.

Menariknya, para peserta tidak langsung disuruh "berperang" merayu satu sama lain. Mereka terlebih dahulu dibekali amunisi mental berupa materi pengembangan diri dan kesiapan pranikah.

Pematerinya pun sengaja didatangkan langsung dari Banyuwangi, yakni pasangan suami istri Elha Abdillah dan Amalia. Kehadiran mentor pasutri ini sengaja dipilih agar para peserta memiliki kompas atau contoh nyata tentang bagaimana menakhodai rumah tangga yang harmonis di dunia nyata.

Baca Juga: FDPNI Gelar Audiensi Nasional Bersama Pemkab Jember Bahas Penguatan Pendidikan Vokasi

Urusan keamanan juga menjadi prioritas. Demi menyaring para petualang cinta yang sekadar iseng atau pemberi harapan palsu (PHP), panitia menerapkan proses skrining yang super ketat sebelum peserta masuk venue. Setiap pendaftar wajib menyetorkan identitas resmi berupa KTP dan Kartu Keluarga (KK).

"Verifikasi ini harga mati. Kami harus memastikan status hukum peserta, apakah benar-benar lajang, janda, atau duda. Ini penting untuk menghindari konflik di kemudian hari sekaligus mengukur kadar keseriusan mereka," tegas Ghifar.

Jika ada yang merasa cocok, panitia bahkan sudah menyiapkan cetak biru pendampingan lanjutan hingga ke tahap pertemuan antarkeluarga.

Animo luar biasa ini ternyata tidak hanya melanda jomblo lokal Jember. Banyak peserta yang nekat menempuh perjalanan ratusan kilometer demi menghadiri acara ini.

Salah satunya adalah Dewi Irawati, peserta asal Jembrana, Bali. Perempuan ini mengaku kepincut datang karena konsep yang ditawarkan sangat jarang ditemui di daerah asalnya.

"Seru sekali. Biasanya acara pethuk (bertemu) massal seperti ini hanya saya dengar ada di Jogjakarta. Mumpung akhir pekan, saya sekalian liburan ke Jember jalani pengalaman baru," kata Dewi sembari tersenyum.

Baca Juga: Incar Data Kemiskinan hingga Anak Putus Sekolah, Ini Gebrakan Ekstrem KKN Kolaboratif 2026 di Akar Rumput Jember

Bagi Dewi, urusan pulang membawa calon suami atau tangan hampa adalah nomor dua. Baginya, ruang ikhtiar ini sudah memberikan kemenangan tersendiri karena mampu memperluas sirkulasi pertemanan lintas daerah.

"Kalau sesuai target ya maunya dapat jodoh. Tapi kalau belum beruntung, minimal saya pulang bawa banyak relasi dan teman baru," pungkasnya. (dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
#aplikasi cari jodoh #aplikasi kencan #Jember