Radar Jember - Keinginan itu tinggal selangkah lagi menjadi kenyataan. Almarhum Prof Hepni sempat berencana hadir langsung menyaksikan perjuangan tim sepak bola UIN KHAS Jember di Liga Mahasiswa 2026.
Namun, Minggu sore di Stadion Notohadinegoro (21/6), para pemain hanya bisa membalas perhatian itu lewat doa, pita hitam, dan sebuah foto yang dibawa ke tengah lapangan.
Suasana haru menyelimuti stadion sesaat sebelum laga Liga Mahasiswa 2026 antara UIN KHAS Jember dan Universitas Islam Jember (UIJ) dimulai, Minggu (21/6).
Riuh suara pertandingan yang biasanya mengisi lapangan sejenak menghilang. Para pemain berdiri melingkar, menundukkan kepala, lalu memanjatkan doa untuk almarhum Prof Hepni, rektor mereka yang baru berpulang dua hari sebelumnya.
Di lengan para pemain UIN KHAS melingkar pita hitam sebagai simbol duka. Sementara sebuah bingkai foto Prof Hepni dibawa ke tengah lapangan saat seremoni penghormatan berlangsung.
Bagi mereka, itu bukan sekadar prosesi menjelang kick off, melainkan ungkapan kehilangan atas sosok yang selama ini memberi perhatian besar terhadap perjalanan tim sepak bola kampus.
Manajer Tim UIN KHAS Jember M. Daud Rosyidy mengatakan, ide penggunaan pita hitam dan membawa foto almarhum lahir dari para pemain.
Mereka ingin memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini mendukung perjalanan tim dan selalu mengikuti perkembangan mereka di Liga Mahasiswa.
“Sebenarnya digagas oleh mahasiswa pemain kami, terkait penghormatan kepada rektor kami. Kami dengan panitia Askab PSSI Jember kemudian difasilitasi untuk melaksanakan penghormatan itu sebelum pertandingan dilakukan,” ujarnya.
Rasa kehilangan itu semakin terasa karena hanya sekitar sepekan sebelum wafat, Prof Hepni masih sempat memanggil manajemen dan tim pelatih untuk menanyakan perkembangan kesebelasan UIN KHAS yang sedang berjuang di fase grup.
Ia ingin mengetahui hasil pertandingan yang telah dijalani, sekaligus evaluasi yang perlu dilakukan agar tim bisa berkembang lebih baik.
“Beliau bertanya, sudah tiga pertandingan ini bagaimana progresnya, kalau ada evaluasi seperti apa. Saya kemudian menyampaikan kepada teman-teman bahwa ada Pak Rektor yang menanyakan perkembangan tim,” kata David.
Percakapan itu kini menjadi kenangan yang terus diputar ulang oleh para pemain dan ofisial. Sebab dalam pertemuan tersebut, Prof. Hepni juga menyampaikan keinginannya untuk hadir langsung menyaksikan pertandingan berikutnya.
Takdir ternyata memiliki rencana lain. Guru besar kelahiran 3 Februari 1969 itu meninggal dunia pada Jumat (19/6/2026) pukul 00.30 WIB dalam usia 57 tahun, sebelum sempat melihat langsung perjuangan tim yang begitu diperhatikannya.
Baca Juga: Prof Hepni Berpulang, UIN KHAS Jember Berduka
“Ternyata beliau kepingin pertandingan berikutnya hadir langsung. Ternyata kok keduluan takdir. Teman-teman mahasiswa merasa kehilangan karena mau diberikan arahan dan sebagainya, tapi tidak sempat bertemu,” ungkapnya.
Asisten Pelatih UIN KHAS Jember Ainur Rofiq mengaku seluruh tim terpukul atas kepergian Prof. Hepni. Bersama Wakil Rektor III Faizin, almarhum merupakan sosok yang terus mendampingi dan mendukung perjalanan tim sejak awal terbentuk.
Dukungan itu tidak hanya berupa kebijakan kampus, tetapi juga kepercayaan bahwa sepak bola bisa menjadi salah satu wajah kebanggaan UIN KHAS di tingkat nasional.“Beliau berharap dari Liga Mahasiswa ini, kami bisa seperti dulu lagi. Semoga kami bisa memberikan hasil terbaik untuk kampus UIN KHAS, terutama untuk almarhum Prof Hepni,” tutur Rofiq.
Menurutnya, harapan terbesar almarhum adalah menghidupkan kembali gairah sepak bola UIN KHAS Jember seperti saat menjuarai Piala Kementerian Agama tingkat nasional pada 2019 lalu.
Karena itu, hasil imbang 0-0 yang diraih UIN KHAS pada laga tersebut terasa lebih dari sekadar tambahan satu poin di klasemen sementara.
Tetapi sore itu, para pemain sebenarnya sedang memainkan pertandingan lain yang tak tercatat dalam statistik apa pun. Yakni menjaga agar mimpi seorang rektor yang belum sempat duduk di tribun tetap hidup di setiap langkah mereka di atas lapangan hijau. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh