Radar Jember - Pemerintah daerah mulai mengerahkan segala cara untuk mengatasi masalah klasik di bidang kesehatan, mulai dari stunting, Angka Kematian Ibu (AKI), dan Angka Kematian Bayi (AKB).
Salah satu dilirik yakni penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau Akal Imitasi (Artificial Intelligence/AI).
Kepala Dinkes PPKB Jember, Muhammad Zamroni, mengakui bahwa seluruh ASN di lingkungan Pemkab Jember, termasuk nakes, diwajibkan melek digital demi mengintegrasikan teknologi ini ke sistem pelayanan publik.
Menurut dia, pengerahan 1.200 tenaga nakes yang diterjunkan di lapangan selama ini masih membentur banyak kendala.
Dan AI dinilai menjadi juru selamat untuk memotong birokrasi data yang rumit.
"Masih banyak kendala di lapangan, AI ini dapat menjadi terobosan," katanya, saat diskusi hibrid, BKPSDM Jember, dalam keterangan resminya, Senin (22/6).
Dengan AI, ia meyakini pemetaan kelompok sasaran berisiko stunting tidak lagi memakan waktu bulanan, tetapi bisa diidentifikasi secara real-time.
"Harapan kami, AKI, AKB, dan stunting turun signifikan melalui pengambilan keputusan berbasis data yang cepat dan akurat," katanya.
Baca Juga: Update Laka Lantas Jember: Dua Kecelakaan Truk, Satu Pengendara Tewas
Kabid Pengembangan Kompetensi Aparatur BKPSDM Jember, Artiantyo Wirjo Utomo, menegaskan bahwa literasi digital ASN sudah bukan lagi pilihan, tapi keharusan.
"Ini bisa menjadi salah satu poin bagi ASN dalam merancang inovasi yang memberikan dampak positif dalam pelayanan publik," imbuhnya.
Terpisah, Bupati Jember Muhammad Fawait sempat meminta para ASN tidak gaptek dan memanfaatkan teknologi dengan bijak, termasuk teknologi AI.
Kendati begitu, ia mengingatkan agar penggunaan AI tidak serampangan dan malas.
"Silakan gunakan dengan bijak, jangan langsung di-copas misalnya, itu ketahuan. Dan saya ingatkan kepada seluruh ASN, termasuk kepala OPD, hati-hati. AI sekarang bisa digunakan untuk mengecek proses pengadaan barang dan jasa yang kurang pas atau mencurigakan," tegasnya. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh