Radar Jember – Gerakan tangan mungil yang mengikuti irama musik memenuhi aula Dinas Pendidikan (Dispendik), Rabu (24/6).
Dengan kostum warna-warni dan senyum yang mengembang, puluhan anak taman kanak-kanak (TK) tampil membawakan Tari Kunang-Kunang dalam lomba yang digelar Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Jember.
Di balik penampilan mereka, tersimpan proses belajar yang telah berlangsung selama beberapa bulan di sekolah masing-masing.
Lomba tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang diselenggarakan lebih awal. Sebab sebagian peserta akan segera melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah dasar.
Sebanyak 18 peserta lomba tari dan 13 peserta lomba berkisah tampil sebagai wakil terbaik dari masing-masing kecamatan setelah melalui seleksi yang berlangsung sejak Mei lalu.
Ketua IGTKI Jember Endang Suprihatin menjelaskan, kegiatan itu bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana mengembangkan kreativitas, keberanian, dan kemandirian anak usia dini.
Selain itu, lomba tersebut sekaligus menjadi bahan evaluasi atas pelatihan menari dan berkisah yang sebelumnya diberikan kepada para guru TK pada April lalu.
“Bagi guru ini merupakan alat evaluasi sampai sejauh mana bisa tersosialisasikan kepada muridnya. Kalau bagi anak-anak tujuannya adalah untuk rasa percaya diri, terus juga untuk meningkatkan kreativitas dan juga kemandirian anak-anak,” ujarnya.
Baca Juga: Update Laka Lantas Jember: Dua Kecelakaan Truk, Satu Pengendara Tewas
Menurut Endang, para guru yang telah mendapatkan pelatihan kemudian menularkan materi tersebut kepada peserta didik di sekolah masing-masing.
Hasil pembelajaran itulah yang kini ditampilkan dalam lomba tingkat kabupaten. Karena itu, kualitas penampilan anak-anak tidak hanya mencerminkan kemampuan peserta, tetapi juga keberhasilan guru dalam mendampingi proses belajar di kelas.
Kepala Dinas Pendidikan Jember Arief Tjahjono menilai kegiatan seni seperti menari dan berkisah penting untuk membantu menemukan potensi terbaik yang dimiliki setiap anak.
Menurutnya, pada usia TK, proses belajar harus dikemas melalui aktivitas yang menyenangkan agar anak tumbuh dengan bahagia.
“Anak itu adalah pribadi yang mandiri. Anak itu bukan kloning dari orang tua. Kegiatan hari ini di dalam menari, berkisah dan sebagainya itu adalah dalam rangka mencari potensi terbaik pada diri anak-anak,” katanya.
Baca Juga: Info Laka Lantas Jember: Motor Oleng, Tabrak Pesepeda
Arief mengingatkan bahwa orang tua maupun guru memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan diri anak. Karena itu, anak perlu mendapatkan lebih banyak dukungan, kasih sayang, dan penghargaan atas setiap proses yang mereka jalani.
“Ciptakan kebahagiaan itu sebagai bentuk rasa kasih sayang seorang ayah dan orang tua kepada anak-anak. Kepada bunda-bunda IGTKI, jangan cuma menjadi pembimbing dan pendidik saja, tetapi jadilah pengasuh yang baik di sekolah,” pesannya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh