Radar Jember – Tiga bulan setelah putus diterjang banjir, jembatan penghubung dua dusun di Desa Pakis, Kecamatan Panti, hingga kini belum mendapat penanganan.
Kondisi tersebut membuat warga setempat berinisiatif membangun jembatan darurat dari bambu agar aktivitas masyarakat tidak terganggu.
Jembatan yang sebelumnya dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat itu rusak akibat luapan Sungai Pakis saat hujan deras mengguyur wilayah setempat pada awal Maret lalu.
Arus banjir yang cukup deras menggerus badan jalan dan fondasi jembatan hingga akhirnya akses penghubung antar dusun tersebut putus total.
Padahal, jalur tersebut merupakan akses penting bagi warga. Selain menghubungkan permukiman antar dusun, jalan tersebut juga menjadi jalur menuju kawasan wisata Kampung Durian serta akses utama masyarakat untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Sainudin, perangkat Desa Pakis, mengatakan sebelum jembatan putus total, kendaraan roda dua masih bisa melintas dengan hati-hati. Namun setelah kembali diterjang banjir, kondisi kerusakan semakin parah sehingga tidak memungkinkan lagi digunakan.
“Awalnya sepeda motor masih bisa lewat. Tetapi setelah banjir berikutnya, jalan dan jembatan benar-benar putus sehingga warga akhirnya bergotong royong membuat jembatan darurat dari bambu,” ujarnya.
Menurut dia, keberadaan jembatan darurat tersebut sangat membantu warga. Sebab jika harus memutar melalui jalur lain, jarak tempuh menjadi lebih jauh dan membutuhkan waktu lebih lama.
Terlebih, di sekitar lokasi terdapat sejumlah lembaga pendidikan yang setiap hari menjadi tujuan para pelajar. Banyak orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah harus melintasi jalur tersebut. Jika akses ditutup total, maka mereka harus mencari rute alternatif yang lebih jauh.
“Kasihan warga, terutama orang tua yang mengantar anak sekolah. Karena itu masyarakat berinisiatif membuat jembatan darurat agar aktivitas tetap berjalan,” katanya.
Jembatan darurat itu dibangun menggunakan batang bambu sebagai penyangga utama. Sementara bagian lantainya dibuat dari anyaman bambu yang dipasang berlapis agar lebih kuat menahan beban kendaraan roda dua yang melintas setiap hari.
Meski demikian, warga tetap diminta berhati-hati saat melintas. Sebab konstruksi jembatan masih bersifat sementara dan hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki serta pengendara sepeda motor.
Untuk menjaga keamanan, warga juga melakukan perawatan secara berkala. Bagian anyaman bambu yang mulai lapuk akibat cuaca maupun intensitas penggunaan langsung diganti agar tidak membahayakan pengguna jalan.
Selain dimanfaatkan pelajar dan warga yang beraktivitas sehari-hari, jembatan darurat tersebut juga menjadi akses penting bagi petani. Banyak warga yang menggunakan jalur itu untuk mengangkut hasil perkebunan seperti kopi, pisang, dan komoditas lainnya menuju pusat desa maupun pasar.
“Kalau harus memutar, tentu biaya dan waktu yang dibutuhkan lebih besar. Karena itu warga berharap jembatan permanen segera diperbaiki agar aktivitas masyarakat kembali normal,” pungkas Sainudin. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh