Radar Jember – Mesin pendingin berhenti bekerja, mixer adonan tak bisa digunakan, dan sejumlah pelanggan terpaksa ditolak.
Itulah kondisi yang dialami pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jember saat pemadaman listrik terjadi di sejumlah wilayah selama dua hari terakhir.
Pemadaman yang berlangsung bergiliran di beberapa kecamatan tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga berdampak langsung terhadap usaha warga yang bergantung pada pasokan listrik.
Baca Juga: Satgas MBG Jember Buka Jalur Pengaduan, Warga Diminta Aktif Laporkan Kejanggalan via Wadul Guse
Pada Selasa (9/6), pemadaman dilaporkan terjadi di wilayah Tanggul pada siang hari, kemudian berlanjut ke kawasan Bangsalsari, Kaliwates, Tegal Besar, hingga Sumbersari pada sore dan malam hari.
Sementara pada Rabu (10/6), sebagian wilayah Ajung dan kawasan kota Jember kembali mengalami gangguan listrik.
Salah satu yang terdampak adalah Arifin, pelaku usaha martabak manis dan martabak telur asal Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari.
Menurut dia, pemadaman listrik menghambat proses produksi karena pembuatan adonan martabak manis menggunakan mixer listrik.
Pada Selasa, listrik padam sekitar pukul 13.00 hingga 16.00. Kondisi serupa kembali terjadi pada Rabu sejak sekitar pukul 14.00 hingga menjelang Magrib.
Baca Juga: Geger Gumukmas Jember! Laporan Penemuan Jasad di Rumah Kosong Justru Menyeret Anak Kandung Pelapor
“Biasanya sore saya sudah membuat adonan supaya saat Magrib bisa langsung buka jualan. Karena padam, ya harus menunggu listrik menyala dulu,” ujarnya.
Akibatnya, jadwal berjualan menjadi mundur dan waktu operasional lebih singkat dibanding hari biasa. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi jumlah pelanggan dan pendapatan harian.
“Semoga tidak terjadi pemadaman lagi. Kalaupun ada, harus diumumkan dulu agar kami pelaku usaha bisa lebih bersiap-siap,” harapnya.
Keluhan serupa disampaikan Putri, pelaku UMKM di Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates.
Ia mengaku pemadaman listrik pada Selasa malam sekitar pukul 18.00 hingga 20.00 membuat usahanya tidak dapat berjalan maksimal. “Ada yang pesan terpaksa kami tolak karena saat itu listrik mati,” katanya.
Putri menjelaskan usahanya menjual berbagai makanan ringan, minuman dingin, es, hingga es krim yang sangat bergantung pada pasokan listrik.
Saat pemadaman berlangsung selama dua jam, suhu pendingin menurun sehingga sejumlah produk mulai mencair.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup merugikan pelaku usaha kecil yang mengandalkan penjualan harian. Selain kehilangan kesempatan menjual produk, kualitas barang dagangan juga berisiko menurun.
“Es krim dan produk beku mulai mencair. Kalau sering terjadi seperti ini tentu sangat berpengaruh terhadap usaha seperti kami,” pungkasnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh