Radar Jember - Usia lanjut masih kerap dipandang sebagai fase ketika seseorang hanya membutuhkan perawatan dari keluarga.
Padahal, lansia tetap memiliki peluang untuk hidup aktif, produktif, dan terus berperan di tengah masyarakat.
Di tengah meningkatnya risiko demensia dan kepikunan pada usia senja, menjaga kesehatan mental dan aktivitas sosial justru menjadi kunci agar lansia tetap adaptif menjalani hidup.
Psikolog Yayasan Garizmu Jember, Endang Guritno, mengatakan, lansia perlu dipahami sebagai individu yang memiliki pengalaman hidup panjang dan nilai kebijaksanaan yang penting bagi generasi berikutnya.
Karena itu, pendekatan terhadap lansia tidak cukup hanya berfokus pada kondisi fisik, tetapi juga mempertahankan kemandirian dan kesehatan mental mereka.
"Perawatan yang dilakukan pada lansia adalah mempertahankan kemandirian dan kesehatan jasmani-rohani di usia senja,” ujarnya.
Menurut Endang, cara pandang masyarakat terhadap lansia selama ini banyak dipengaruhi stereotipe. Bahwa usia tua identik dengan ketergantungan dan penurunan kemampuan berpikir.
Padahal, berdasarkan berbagai survei kesehatan nasional, sebagian besar lansia di Indonesia masih berada dalam kondisi sehat dan mandiri.
Dukungan keluarga, lingkungan yang suportif, hingga keamanan finansial menjadi faktor penting yang menentukan kualitas hidup mereka di masa tua.
Di tengah perkembangan teknologi, lansia juga dinilai tetap mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Banyak lansia kini aktif menggunakan media sosial, bergabung dalam grup sosmed komunitas, hingga mengikuti kegiatan sosial dan keagamaan di lingkungan sekitar.
Menurutnya, aktivitas semacam itu dinilai penting untuk menjaga keterhubungan sosial. Sekaligus mencegah rasa kesepian setelah memasuki masa pensiun.
“Peran penting lansia terutama untuk kultur Asia seperti di Indonesia sebagian besar masih menempati peran informal sebagai penasehat dan penyimpan budaya kearifan lokal,” katanya.
Tak hanya hubungan sosial, menjaga aktivitas otak juga menjadi bagian penting untuk menekan risiko demensia dan penurunan daya ingat.
Endang menjelaskan aktivitas sederhana seperti bermain catur, teka-teki silang, sudoku, berkebun, hingga bermain bersama cucu dapat membantu menjaga fungsi kognitif lansia tetap aktif.
Menurutnya, yang paling penting adalah lansia tetap memiliki rutinitas yang membuat mereka berpikir, bergerak, dan merasa bahagia.
Ia menambahkan, kesehatan mental lansia juga dipengaruhi pola hidup sehari-hari, mulai dari kualitas tidur, olahraga, hingga relasi sosial yang sehat dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
Lansia yang merasa dihargai dan tetap dilibatkan dalam aktivitas sosial cenderung memiliki kualitas hidup lebih baik dibanding mereka yang merasa tersisih.
“Rasa dihargai, dilibatkan, diberikan kepercayaan, dan apresiasi tulus dari anggota keluarga serta lingkungan suportif menjadi fondasi faktor pendukung signifikan kesehatan mental para lansia,” pungkasnya. (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh