Radar Jember - Sejumlah sekolah penerima manfaat MBG dari SPPG Kaliwates 3 Jmber mulai mengambil langkah antisipasi menyusul dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satunya dilakukan RA Hidayatul Mubtadiin, Kecamatan Kaliwates yang memutuskan menghentikan sementara distribusi menu MBG hingga Jumat. Hal itu setelah sejumlah siswanya mengalami keluhan kesehatan.
Operator sekolah, Laili, mengatakan total ada 69 siswa penerima MBG di sekolah tersebut. Namun, setelah menu dibagikan pada Rabu (20/5) pagi, pihak sekolah menerima laporan adanya siswa yang mengalami muntah dan nyeri perut.
Awalnya terdapat delapan siswa, kemudian bertambah satu anak lagi sehingga total menjadi sembilan. “Laporan masuk ke sekolah itu sekitar jam 04.00 sore. Dari laporan tersebut ada delapan anak dan satu anak menyusul,” ujarnya.
Menurut Laili, gejala yang dialami siswa muncul dalam rentang waktu berbeda. Ada yang mulai muntah sekitar pukul 12.00 siang, ada pula yang baru mengalami keluhan pada sore hari.
Dari sembilan siswa tersebut, tiga anak disebut mengalami kondisi paling berat dibanding lainnya. “Mayoritas yang parah itu punya keluhan nyeri perut dan ada satu anak yang sesak napas,” katanya.
Menu MBG yang dikonsumsi siswa saat itu berupa ayam suwir bumbu kuning. Sebagian besar siswa yang mengalami keluhan sempat menjalani pemeriksaan medis. Lima anak dibawa berobat, sementara empat lainnya cukup menjalani pemulihan di rumah.
“Kalau malam kemarin yang masih sempat di puskesmas ada satu anak. Pagi ini kami dapat kabar semuanya sudah pulang,” jelasnya.
Meski sebelumnya belum pernah terjadi kasus serupa, pihak sekolah mengaku pernah menerima keluhan terkait kualitas makanan MBG yang dibawa pulang siswa sudah basi.
Namun sejauh ini, mayoritas anak sebenarnya menyukai program tersebut dan selalu antusias saat makanan datang ke sekolah. “Anak-anak suka sama MBG-nya dan excited juga kalau ada MBG sebenarnya,” ujar Laili.
Sebagai langkah kehati-hatian, tambah Laili, sekolah akhirnya meminta distribusi MBG dihentikan sementara hingga kondisi benar-benar aman.
Saat ini sembilan siswa yang mengalami keluhan juga belum kembali masuk sekolah. Pihaknya memberikan keleluasaan kepada orang tua korban dan mengizinkan agar anak mereka tidak masuk sekolah. Itu untuk menjalani pemulihan di rumah masing-masing.
"Kalau pelajaran di sekolah normal. Hanya saja siswa yang sakit memang tidak masuk sekolah," pungkasnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh