Radar Jember - PAGI belum benar-benar terang saat suara domba bersahutan dari kandang di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo. Di sela aroma rumput basah dan tanah yang masih dingin, tangan seorang perempuan muda tampak sibuk memeriksa pakan ternak satu per satu.
Dia adalah Yesita Karel, alumni Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember yang memilih jalan hidup berbeda. Menjadi peternak domba.
Dunia kandang bukan hal asing baginya. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan keluarga peternak. Hampir setiap hari ia melihat aktivitas jual beli domba, membersihkan kandang, hingga merawat ternak yang sakit.
Baca Juga: Muncul Dugaan Pemalsuan Ttd P-APBDes di Jember! BPD Karangsono Diperiksa
Dari kebiasaan itu, muncul keyakinan bahwa peternakan bukan sekadar pekerjaan turun-temurun, melainkan peluang usaha yang bisa berkembang besar. Keberanian itu mulai ia buktikan pada 2017, saat sebagian besar mahasiswa masih sibuk memikirkan tugas kuliah dan organisasi kampus,
Yesita justru mulai merintis usaha sendiri bernama ‘Artisnya Domba Jember’. Modal nekat menjadi senjata awalnya. “Saya ingin punya penghasilan sendiri. Dari kecil sudah melihat peluang itu ada di sekitar rumah, jadi saya memberanikan diri untuk mulai,” ujarnya.
Namun jalan yang dipilihnya tidak selalu mudah. Menjadi perempuan di dunia peternakan membuatnya kerap dipandang sebelah mata. Ia juga dihantui rasa takut saat mulai berjualan, mulai dari khawatir domba tidak laku, tertipu saat transaksi, hingga ancaman pencurian ternak.
Belum lagi, ia harus belajar memahami jenis-jenis domba, menentukan bobot ideal, hingga mencari jasa pengiriman yang aman untuk pembeli luar daerah. Alih-alih mundur, Yesita memilih belajar langsung di lapangan.
Ia terbiasa bertanya kepada peternak senior, mengamati pasar, hingga memahami karakter setiap jenis domba. Perlahan, pengetahuannya bertambah. Ia mulai mengenal domba Merino, Dormas, hingga Sopas yang kini menjadi bagian dari pengembangan usahanya.
Cobaan paling berat datang saat pandemi dan wabah PMK menyerang. Pengiriman ternak sempat terhambat karena pembatasan, sementara beberapa domba di kandangnya terserang penyakit hingga mati. “Pernah merasa sangat berat.
Saat wabah PMK, pengiriman terhambat, beberapa domba sakit bahkan mati. Tapi saya memilih tetap bertahan karena saya percaya usaha ini bisa berkembang,” katanya.
Namun, tahun 2022 menjadi titik balik usahanya, penjualan meningkat tajam dan kandang yang dulu hanya satu kini berkembang menjadi tiga kandang aktif.
Dari hasil beternak, Yesita bukan hanya mampu membayar uang kuliah sendiri sejak semester awal, tetapi juga mampu membeli motor, handphone, hingga membantu renovasi rumah orang tuanya.
“Bangga sekali bisa sampai di titik ini. Saya sangat berterima kasih kepada kedua orang tua dan kakak-kakak saya yang selalu memberi support dan doa,” ungkapnya.
Baginya, keberhasilan tidak lahir dari keberuntungan semata, melainkan keberanian mengambil langkah pertama. Pengalaman kuliah dan membangun usaha berjalan bersamaan membuatnya belajar tentang disiplin, komunikasi, hingga tanggung jawab dalam mengambil keputusan.
Ia terus mengembangkan Artisnya Domba Jember dengan mimpi lebih besar, menjadi pengusaha peternakan yang mampu membuka peluang bagi banyak orang. “Ya harapannya dengan usaha ini juga bisa beri manfaat kepada orang sekitar terutama lapangan pekerjaan,” pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh