Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Wamen Komdigi Sebut Festival Egrang Jember Jadi Benteng Anak dari Gempuran Game Digital

Dwi Siswanto • Minggu, 10 Mei 2026 | 22:17 WIB
Wamen Komdigi saat menghadiri peluncuran Festival Egran Tanoker. (Instagram Tanoker)
Wamen Komdigi saat menghadiri peluncuran Festival Egran Tanoker. (Instagram Tanoker)

RADAR JEMBER – Festival Egrang (FE) ke-14 yang digelar di Pasar Lumpur, Dusun Krajan, Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, Sabtu (9/5), mendapat perhatian langsung dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI Nezar Patria.


Dalam launching festival tersebut, Nezar menilai permainan tradisional egrang atau tanoker masih sangat relevan di tengah maraknya permainan digital yang kini banyak memengaruhi anak-anak.


“Permainan egrang ini bukan hanya hiburan. Ada nilai pendidikan karakter, melatih keseimbangan, kerja sama, hingga membangun jiwa sosial anak,” ujarnya.
Nezar datang bersama istrinya, Prof Dr Murtiningsih SSos. Turut mendampingi Pj Sekda Jember Ahmad Helmi Luqman, Kepala Dinas Kominfo Jember Regar Jeane Daelanta, serta Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember Iqbal Reza Nugraha.


Kedatangan rombongan disambut tarian egrang yang dibawakan anak-anak komunitas Tanoker Ledokombo.

Baca Juga: Stop Corat-Coret dan Konvoi Unfaedah! Gus Fawait Ajak Pelajar Jember Rayakan Kelulusan dengan Sedekah Seragam
Menurut Nezar, permainan tradisional seperti tanoker menjadi ruang positif bagi anak-anak untuk belajar kebersamaan. Bahkan, kata dia, dalam permainan tersebut tidak ada budaya saling merundung ketika ada teman yang terjatuh.


“Anak-anak justru saling membantu dan menguatkan. Ini nilai sosial yang penting di era sekarang,” katanya.


Selain pelestarian budaya, Festival Egrang juga dinilai mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Salah satunya melalui keberadaan Pasar Lumpur yang ikut ramai saat festival berlangsung.


Sementara itu, Pj Sekda Jember Ahmad Helmi Luqman mengatakan, tema “Permainan Tradisional Egrang di Era Digital” menjadi pesan bahwa teknologi dan budaya bisa berjalan berdampingan.


“Generasi muda harus tetap adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi tidak boleh kehilangan identitas budaya lokal,” ungkapnya.


Pembina Tanoker Ledokombo, Supoharjo, menjelaskan bahwa komunitas tersebut sudah berjalan selama 14 tahun. Awalnya, permainan egrang berkembang dari kebiasaan anak-anak desa bermain di area persawahan.

Baca Juga: UIN KHAS Jember Optimalkan Transparansi Digital Lewat Penguatan PPID PTKIN
Dari situ, egrang yang dulunya dipakai untuk lomba lari kemudian dikembangkan menjadi pertunjukan seni dan tarian anak-anak hingga akhirnya lahir Festival Egrang.

“Anak-anak ternyata lebih senang menari menggunakan egrang daripada balapan. Dari situ festival ini terus berkembang sampai sekarang,” terangnya.


Keberadaan Pasar Lumpur juga berawal dari aktivitas anak-anak yang rutin bermain di sawah sambil membawa bekal makanan.

 Karena semakin ramai setiap pekan, warga kemudian membuka lapak sederhana yang kini menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.

Editor : Dwi Siswanto
#Tanoker #komdigi #egrang