Radar Jember - Kebutuhan lapangan kerja di Jember terus meningkat seiring bertambahnya jumlah angkatan kerja setiap tahun.
Kondisi ini tidak hanya terjadi di tingkat daerah, melainkan juga menjadi persoalan yang bersifat nasional dengan tantangan yang hampir serupa.
Ketua Dewan Pakar ICMI Jember, Dr. Aries Harianto, menyebut jumlah angkatan kerja di Jember pada Agustus 2025 mencapai sekitar 1,58 juta orang.
Baca Juga: Langsung Tancap Gas, Kajari Jember: Dugaan Korupsi Bank Jatim CP Kalisat Naik ke Penyidikan
Angka tersebut mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Angkatan kerja itu orang yang siap bekerja,” ujarnya.
Menurut dia, persoalan utama terletak pada kesiapan sumber daya manusia yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Dalam perspektif akademik, tenaga kerja yang tidak terserap akan membentuk kantong pengangguran tersendiri.
“Tidak semua terserap pada formasi kebutuhan pasar kerja,” kata Dr. Aries Harianto Dosen Fakultas Hukum Unej.
Terkait pekerjaan formal, Aries menjelaskan bahwa istilah tersebut mencakup sektor pemerintah dan swasta.
Pada sektor pemerintah, peluang kerja sangat terbatas karena mengikuti kebutuhan dan kebijakan secara berjenjang atau mbatasan regulasi.
Sementara di sektor swasta, peluang kerja lebih bergantung pada kebijakan daerah dalam membuka ruang usaha.
Pemerintah daerah dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi dunia usaha agar mampu menyerap tenaga kerja.
“Semua tergantung dari kreativitas dan kebijakan pemerintah kabupaten,” tegasnya.
Ia menilai langkah yang bisa ditempuh adalah membuka pintu investasi baru sekaligus mengoptimalkan usaha yang sudah berjalan.
Dengan cara itu, kebutuhan tenaga kerja dapat meningkat secara bertahap seiring berkembangnya sektor usaha. “Pengembangan usaha pada gilirannya menyerap tenaga kerja,” jelasnya.
Namun demikian, investasi tidak serta-merta menjamin peningkatan kesejahteraan pekerja. Aries mengingatkan adanya potensi ketimpangan jika hak-hak pekerja tidak dipenuhi oleh perusahaan.
“Investasi bisa menjadi gizi, tapi juga potensi menciptakan eksploitasi terhadap pekerja,” ungkapnya.
Dalam jangka pendek, sektor pariwisata dinilai paling memungkinkan untuk dikembangkan di Jember.
Potensi alam, sejarah, hingga kawasan perkebunan dapat menjadi daya tarik jika didukung keseriusan dan regulasi yang jelas.
“Dibutuhkan landasan yang berkepastian dalam bentuk regulasi daerah berupa perda,” pungkasnya. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh