Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jadi Supermarket Bencana, BPBD Jember Catat 276 Kejadian hanya dalam 3 Bulan

Maulana RJ • Minggu, 26 April 2026 | 20:59 WIB
Talkshow Kebencanaan yang menjadi bagian dari rangkaian acara puncak Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026, di Agrowisata Persemaian Permanen Garahan (PPG), Sidomulyo, Silo, Jember, Sabtu (25/4/2026) malam.
Talkshow Kebencanaan yang menjadi bagian dari rangkaian acara puncak Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026, di Agrowisata Persemaian Permanen Garahan (PPG), Sidomulyo, Silo, Jember, Sabtu (25/4/2026) malam. (Foto: Maulana/Radar Jember).

SILO, Radar Jember - Berbagai potensi bencana yang sangat memungkinkan di Kabupaten Jember mengharuskan keterlibatan berbagai elemen untuk melakukan mitigasi bencana.

Tingginya potensinya itu tidak lepas dari landscape dan topografi Jember yang memiliki daerah di pegunungan, hingga bibir pantai.

Tidak hanya bencana banjir, bencana alam seperti angin puting beliung, tanah longsor, kekeringan, hingga gelombang tsunami, bisa sewaktu-waktu datang tanpa diundang. Berbagai potensi itu membuat kota berpenduduk 2,6 juta jiwa lebih ini bukan saja menjadi minimarket bencana, tapi supermarket bencana. 

Baca Juga: Turun Dini Hari ke Lokasi Banjir, Bupati Fawait Ultimatum Pengembang: Stop Bangun Perumahan di Bantaran Sungai!

Fakta mengejutkan ini diungkapkan dalam Talkshow Kebencanaan yang menjadi bagian dari puncak peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026, di Agrowisata PPG Sidomulyo, Kecamatan Silo, Jember, Sabtu (25/4/2026) malam.

Dalam forum tersebut, Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, memaparkan data yang cukup membuat bulu kuduk berdiri: hanya dalam kurun waktu tiga bulan, tepatnya sejak 2 Januari hingga akhir Maret 2026, tercatat sebanyak 276 insiden bencana telah mengguncang Jember. Dari total ratusan peristiwa tersebut, mayoritas adalah amukan alam yang tak terelakkan. 

"Ada 276 total bencana, 243 di antaranya murni bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang yang mendominasi," kata Edy, di hadapan puluhan organ relawan kebencanaan BPBD Jember, di forum itu. 

Baca Juga: Banjir Luapi Pemukiman Warga Mumbulsari, Pemkab Jember Desak Pemprov Segera Keruk Sungai

Ia mencotohkan, salah satu bukti kebrutalan cuaca ekstrem sempat terjadi di Kecamatan Wuluhan, di mana hujan dan angin kencang yang berlangsung hanya 2 hingga 3 jam berhasil menumbangkan 51 pohon, merobohkan 14 gudang tembakau, dan merusak sejumlah rumah penduduk.

Menyadari ancaman ganda—dari banjir di musim penghujan hingga ancaman kekeringan di masa depan—talkshow dalam rangkaian HKB 2026 ini menekankan pentingnya sinergi untuk membangun masyarakat yang "Siap Untuk Selamat." 

Baca Juga: Jember Kembali Berduka di Februari 2026, Memori Kelam Banjir Panti 2006 yang Terulang

Selain apresiasi bagi tim relawan, Edy Budi juga menegaskan bahwa mitigasi mandiri adalah kunci. Warga didesak untuk menjadi garda terdepan dengan tiga langkah krusial: memahami titik rawan di lingkungan tempat tinggal, mengedepankan penanaman pohon sebagai perisai alami, dan melaporkan setiap potensi ancaman bencana kepada pihak berwenang. "Kami sangat mengapresiasi kerja-kerja keras para tim relawan selama ini sangat luar biasa sekali membantu penanganan bencana dan mengedukasi masyarakat luas," tambah Edi Budi.

Di forum yang sama saat itu, Ketua Komisi D DPRD Jember Sunarsi Khoris menyinggung kaitan sokongan anggaran untuk penanganan bencana, melalui komisi D yang merupakan mitra BPBD. Melihat komplitnya potensi bencana di Jember, Sunarsi merasa anggaran penanganan bencana perlu mendapatkan porsi yang ideal.

"Meski anggaran di BPBD yang diajukan saat itu kecil, kami melihat temen-temen dan Pak Edy Budi ini luar biasa sekali, beliau waktu itu baru dilantik bupati, sudah langsung dihadapkan dengan berbagai penanganan bencana, dibantu temen-temen relawan juga. Jadi Insya Allah itu semua menjadi catatan pahala dan ibadah untuk kita," katanya Politisi PKB itu.

Baca Juga: Mitigasi Bencana Longsor, ​BPBD Jember Perkuat Sistem Peringatan Dini di DAS Kalijompo

Tidak hanya Sunarsih Khoris dan Edy Budi, akademisi sekaligus Kepala Laboratorium Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Muhammadiyah Jember, M. Hamdi HS, juga hadir memberikan wejangan kepada para relawan saat itu. 

Dalam paparannya, Hamdi menyarankan pemerintah daerah, melalui eksekutif dan legislatif, melakukan instrumen yang lebih akomodatif dalam penanganan bencana. Salah satunya melalui peraturan daerah atau Perda.

Ia menginginkan, penanganan bencana bukan saja memperhitungkan aspek kecepatan dan ketepatan, namun juga persiapan yang matang yang dilakukan oleh pemangku kebijakan atau dalam hal ini pemerintah daerah. 

Editor : Maulana RJ
#Jember #BPBD #penanggulangan bencana #Bencana Alam #mitigasi bencana