Radar Jember - Keberanian berpikir dan memperjuangkan keyakinan menjadi kunci perubahan bagi perempuan Indonesia, terutama dalam momentum Hari Kartini.
Hal itu disampaikan dosen FKIP Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Yoga Dwi Windy Kusuma Ningtyas.
Peringatan Kartini, menurut dia, tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Momentum ini harus dimaknai sebagai dorongan agar perempuan berani melampaui keterbatasan dan terus membawa perubahan nyata.
Baca Juga: Alasan Nahdliyin Jember Ingin Gus Kikin Nahkodai PBNU Gantikan Yahya Cholil Staquf
“Hari Kartini menjadi pengingat bahwa keberanian untuk berpikir dan memperjuangkan hal-hal yang diyakini benar adalah kekuatan besar,” ujarnya.
Ia menilai, perempuan Indonesia saat ini telah mampu menembus berbagai bidang strategis. Peran sebagai akademisi, ilmuwan, hingga pemimpin semakin terbuka, bahkan di level global, tanpa harus meninggalkan nilai budaya dan integritas.
“Menjadi perempuan Indonesia adalah sebuah kekuatan tersendiri,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ia menyoroti relevansi pemikiran Raden Ajeng Kartini yang menempatkan pendidikan sebagai jalan utama perubahan.
Baginya, melawan ketertinggalan tidak harus dengan kekerasan, melainkan melalui gagasan dan proses belajar. “Melawan ketertinggalan tidak harus dengan kekerasan, tetapi melalui pemikiran, tulisan, dan pendidikan,” tegasnya.
Ia juga mengaitkan semangat tersebut dengan pesan Malala Yousafzai tentang kekuatan pendidikan dalam mengubah dunia.
Lingkungan kampus, kata dia, harus mampu menghadirkan ruang aman dan suportif bagi mahasiswa perempuan untuk berkembang. “One teacher, one book, one pen can change the world,” kutipnya.
Di akhir, Yoga berharap generasi muda terus menyalakan semangat Kartini dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan keberanian, integritas, dan kontribusi nyata, perempuan Indonesia diyakini mampu menjadi motor perubahan di berbagai bidang.
“Mahasiswa perempuan perlu diyakinkan bahwa ide-ide mereka berharga, karya mereka penting, dan mereka memiliki peran bermakna,” pungkasnya. (dhi/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh