Radar Jember - Rektor UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Prof Hepni, menegaskan pentingnya peran ulama sebagai penerus perjuangan Nabi Muhammad di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat.
Menurutnya, kehadiran ulama tidak sekadar simbol keagamaan, tetapi harus mampu memberi arah yang jelas bagi umat, khususnya saat arus informasi berkembang tanpa batas.
Ia menilai derasnya informasi yang beredar melalui berbagai platform kerap memunculkan kebingungan di tengah masyarakat.
Tidak sedikit umat menerima berbagai pandangan keagamaan tanpa dasar keilmuan yang kuat, sehingga diperlukan figur dan lembaga yang mampu menjadi rujukan terpercaya.
Hepni menyoroti fenomena maraknya individu berbicara soal agama tanpa otoritas maupun kapasitas akademik yang memadai.
Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi menimbulkan kesalahpahaman bahkan perpecahan jika tidak diimbangi panduan yang jelas.
Menurutnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki posisi strategis sebagai navigator kehidupan beragama.
Lembaga tersebut diharapkan mampu menjadi penunjuk arah bagi umat yang menghadapi dinamika sosial serta derasnya arus informasi yang berseliweran setiap hari.
Baca Juga: Bupati Jember Gus Fawait Komitmen dengan Tegas: Nasib PPPK Jember Aman Sampai 2027
“Ulama harus benar-benar menjadi navigator kehidupan bagi umat di tengah masyarakat yang kebingungan dan kehilangan arah akibat derasnya informasi,” papar Hepni dalam sambutan Musda MUI Jember
Hepni menambahkan, peran itu menempatkan MUI sebagai institusi yang memberi panduan keagamaan berbasis keilmuan dan pertimbangan matang.
Dengan demikian, kehidupan keberagamaan masyarakat tetap berjalan seimbang dan tidak mudah terpengaruh narasi yang menyesatkan.
Sementara itu, Ketua MUI Jember Dr KH Abdul Haris menegaskan bahwa independensi menjadi syarat utama agar lembaga tersebut tetap dipercaya publik.
Ia menekankan setiap sikap maupun fatwa harus terbebas dari kepentingan pihak tertentu dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Ia menyebutkan, fokus MUI Jember ke depan tidak hanya melahirkan fatwa, tetapi juga memastikan implementasinya berjalan melalui koordinasi aktif dengan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah.
Baca Juga: BRI Salurkan Ambulans untuk Muhammadiyah Tanggul Jember, Perkuat Layanan Kesehatan Warga
“Fatwa harus lahir dari kajian ilmiah yang objektif, sehingga benar-benar menjadi pedoman umat dan bukan hasil pengaruh pihak manapun,” tegasnya. (dhi/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh