Radar Jember - Jalan hingga jembatan menjadi infrastruktur yang langsung dirasakan masyarakat. Namun, ada juga pembangunan infrastruktur yang dibangun dengan dana swadaya masyarakat. Seperti yang dilakukan warga Curahtakir, Kecamatan Tempurejo.
Suara cangkul beradu dengan tanah, deru mesin molen sederhana, hingga tawa warga yang saling bersahutan mewarnai pagi di Dusun Krajan 2, Desa Curahtakir, Kecamatan Tempurejo.
Di sudut desa yang dikelilingi hamparan sawah dan tebu itu, warga sedang membangun sesuatu yang bukan sekadar jembatan, melainkan harapan bersama.
Baca Juga: Update Cuaca Jember Kamis 9 April 2026: Potensi Hujan Sore Hari
Jembatan lama yang dulu hanya selebar tiga meter kini tampak berbeda. Lebarnya bertambah menjadi delapan meter. Di kanan-kirinya berdiri plengsengan kokoh, seolah menjadi penanda bahwa kerja keras warga tidak sia-sia.
Semua itu bukan hasil proyek besar pemerintah. Melainkan murni dari swadaya warga. “Dulu sempit sekali. Kalau ada mobil berpapasan, pasti salah satu harus mundur,” ujar Zainal Abidin, ketua panitia pembangunan.
Jembatan tersebut menjadi akses vital yang menghubungkan tiga dusun sekaligus. Krajan 2, Krajan 1, dan Ponco. Setiap hari dilalui warga, mulai dari petani, anak sekolah, hingga kendaraan roda empat dan truk.
Namun, kondisi sebelumnya jauh dari kata aman. Selain sempit, sisi utara jembatan sempat ambrol. Jalan di sekitarnya juga rawan kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua.
Baca Juga: Bupati Jember Gus Fawait Komitmen dengan Tegas: Nasib PPPK Jember Aman Sampai 2027
Tak jarang, pengendara terperosok ke selokan karena jalan sempit dan tikungan tertutup tanaman tebu. “Sering ada yang jatuh ke bawah. Apalagi kalau malam, gelap dan tidak kelihatan,” tambah Zainal.
Kondisi itulah yang mendorong warga untuk bergerak. Mereka berkumpul, bermusyawarah, lalu sepakat jembatan harus diperlebar. Keputusan itu tentu bukan perkara mudah. Biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Namun, semangat gotong royong menjadi modal utama.
Zainal bersama panitia kemudian mengirimkan proposal kepada warga yang merantau ke luar daerah, bahkan luar Jawa. Banyak di antara mereka bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia maupun profesi lain.
Tak disangka, respons yang datang begitu besar. “Mereka langsung mendukung. Alhamdulillah, dana bisa terkumpul,” katanya.
Pembangunan pun dimulai. Selama dua minggu, warga bahu-membahu mengerjakan proyek tersebut. Tukang berasal dari warga sendiri, sementara yang lain membantu tenaga mulai dari mengangkut material hingga menyiapkan konsumsi.
Untuk memperkuat konstruksi, plengsengan dibangun di sekitar jembatan sepanjang sekitar enam meter. Sementara pelebaran jalan dilakukan dengan urukan tanah sepanjang kurang lebih 20 meter, menggunakan lebih dari 15 dump truk material.
Baca Juga: BRI Salurkan Ambulans untuk Muhammadiyah Tanggul Jember, Perkuat Layanan Kesehatan Warga
Bagian utara jembatan yang sempat ambrol dibangun ulang, sementara sisi selatan ditambah hingga total lebar mencapai delapan meter.
Kini, perubahan itu benar-benar terasa. Jika dulu satu kendaraan harus mengalah, maka sekarang dua mobil bahkan truk bisa berpapasan dengan leluasa.
Area sekitar jembatan juga lebih aman, dilengkapi tembok pengaman untuk mencegah kecelakaan. “Sekarang jauh lebih nyaman. Tidak khawatir lagi kalau berpapasan,” ujar Mu’din, warga setempat.
Tak hanya sebagai akses harian, kawasan ini juga kerap digunakan untuk kegiatan warga. Mulai dari perayaan Agustusan hingga titik kumpul saat hendak bepergian bersama, seperti ziarah menggunakan bus.
Dengan kondisi jembatan yang lebih lebar, aktivitas itu kini bisa dilakukan tanpa kendala berarti. Meski pembangunan hampir rampung, masih ada satu harapan tersisa: penerangan jalan. “Kalau malam masih gelap. Semoga nanti bisa ditambah lampu,” harap warga.
Total anggaran yang dihabiskan untuk pembangunan ini mencapai sekitar Rp 50 juta. Angka yang tidak kecil untuk ukuran swadaya desa. Namun, hasilnya menjadi bukti bahwa kebersamaan mampu menghadirkan perubahan nyata. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh