KEPATIHAN, Radar Jember - Di saat harga bahan bakar minyak relatif stabil, pelaku usaha di Jember justru dihadapkan pada persoalan lain.
Harga berbagai kebutuhan kemasan berbahan plastik mendadak melonjak dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan ini terasa di sentra perdagangan Jalan Trunojoyo, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates, Jember dan langsung memengaruhi aktivitas pedagang serta pelaku UMKM.
Baca Juga: Plengsengan Ambrol, Jalan Antar Desa di Jember Ini Terancam Putus
Sejumlah pedagang menyebut lonjakan harga mencapai 20 hingga 40 persen untuk beberapa jenis produk.
Pedagang plastik, Meliana, mengatakan kenaikan harga terjadi hampir merata.
Kantong plastik, gelas plastik, styrofoam, hingga kotak makanan jenis thinwall menjadi barang yang paling banyak mengalami penyesuaian harga.
Kondisi tersebut membuat pembeli mulai mengurangi jumlah pembelian karena modal yang harus dikeluarkan semakin besar. Kenaikan harga disebut berlangsung bertahap sejak pekan kedua Maret dan belum menunjukkan tanda penurunan hingga awal April.
Bahkan, harga dari distributor bisa berubah dalam waktu singkat. Untuk produk plastik ukuran umum, kenaikan berkisar Rp 2.000 sampai Rp3.000 per pak hampir di semua jenis.
Lonjakan paling signifikan terjadi pada kotak plastik thinwall yang biasa dipakai sebagai wadah makanan siap saji. Produk ini mengalami kenaikan hingga Rp10.000 sampai Rp 15.000 per slop berisi 25 kotak.
Baca Juga: Ini Nama Lengkap Kajari Karo Danke Rajagukguk, Punya Rekor dan Gaya Kepemimpinannya Seperti Ini
Pedagang menduga kondisi tersebut berkaitan dengan terbatasnya bahan baku plastik berbasis hasil penyulingan minyak bumi sebagian besar masih mengandalkan pasokan impor. “Kantong plastik biasanya naik Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per pak. Mika juga sama. Kalau thinwall paling terasa, bisa sampai Rp 10.000 sampai Rp15.000 per slop,” ujarnya.
Ia menyebut perubahan harga mulai terasa sejak sekitar 9 Maret lalu. Menurut informasi yang diterimanya dari pemasok, ketersediaan bahan baku menjadi penyebab utama kenaikan.
Distribusi bahan disebut terganggu sehingga stok barang terbatas di pasaran. Situasi global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi minyak dunia, ikut disebut memengaruhi harga.
Kondisi ini turut dirasakan pelaku UMKM makanan. Sofiatun Najah, penjual nasi kuning dan aneka camilan tradisional, mengaku pengeluaran untuk kemasan meningkat cukup besar. Plastik dan mika menjadi kebutuhan harian yang tidak bisa digantikan sepenuhnya. “Mau tidak mau tetap beli, tapi untungnya jadi lebih sedikit,” katanya.
Ia mengaku sulit menaikkan harga jual karena khawatir pelanggan beralih ke penjual lain. Sebagian pelaku usaha kini mulai mencari alternatif kemasan yang lebih ekonomis atau mengurangi penggunaan plastik demi menekan biaya produksi sambil berharap harga segera kembali stabil. (dhi/dwi)
Editor : M. Ainul Budi