Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Duka di Balik Pasungan: Remaja di Mayang Jember yang Depresi Berat Usai Ditinggal Wafat Sang Ayah, Kini Dievakuasi Dinsos

Sidkin • Kamis, 2 April 2026 | 04:00 WIB
DIBEBASKAN: Petugas JSC Dinsos Jatim membuka gembok yang memasuk kaki Abril, kemarin (1/3). (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)
DIBEBASKAN: Petugas JSC Dinsos Jatim membuka gembok yang memasuk kaki Abril, kemarin (1/3). (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Haknya sebagai manusia tiba-tiba direnggut. Begitulah untuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang nasibnya dipasung oleh keluarganya sendiri. Seperti yang dialami oleh Muhammad Abril Maulana. 

Rumah itu sudah tidak layak huni. Dinding kayu dan asbes yang lapuk, sepotong tembok bata retak yang tak lagi utuh. Di sinilah Muhammad Abril Maulana, 16 tahun, remaja Desa Sumberkejayan, Kecamatan Mayang, menghabiskan harinya dalam keadaan dipasung.

Rantai kecil melilit kakinya, diikat kawat tanpa gembok. Ironi. Tapi ini cara sederhana yang dipilih keluarga untuk meredam amukan remaja yang didiagnosis orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) itu.

Baca Juga: Dampaknya Terasa di Jember! Harga Bahan Baku Plastik Melambung Akibat Konflik Timur Tengah

Gangguan yang dialami Abril bukan hal baru. Sejak kecil, kondisinya sudah tampak berbeda dari anak-anak seusianya. Ia sempat bersekolah, namun hanya bertahan hingga kelas 2 SD sebelum pihak sekolah menyerah.

"Menyakiti teman-temannya, jewer-jewerin. Anak-anak di sekolah sudah takut semua sama Abril," tutur Muhammad Sobri, paman Abril saat ditemui, kemarin (1/3).

Sekitar setahun lalu, kondisi Abril mulai memburuk drastis. Keluarga membawanya berobat dari Puskesmas Mayang, berlanjut ke Jember, dirawat di Liposos Dinas Sosial Jember, hingga akhirnya dirujuk ke RSJ Lawang, Malang.

Sempat ada secercah harapan seusai pulang dari sana. "Dari Lawang ke sini itu enak, enggak ada masalah, seolah-olah sembuh total," kenang Sobri.

Baca Juga: Modernisasi Muscab PKB Jember: Empat Nama Berebut Kursi Ketua Lewat Seleksi Aplikasi Simpel

Namun, kabar duka diketahui Abril. Tohari, sang ayah yang selama ini menjadi sosok paling dekat dengan Abril, meninggal dunia. Ayahnya itu telah meninggal dunia empat hari sebelum Abril pulang ke rumah. Kehilangan itulah yang membuat kondisi Abril langsung jatuh ke titik terburuk.

"Setelah bapaknya meninggal, Abril langsung drop, mungkin lebih parah dari yang sebelumnya," ujar Sobri.

Amukan Abril pun kian tak terkendali dan mulai mengancam keselamatan orang-orang di sekitarnya. Ia sempat mencekik sang ibu, Tumiyati, dan berulang kali melempar batu ke rumah tetangga.

Keluarga tak punya banyak pilihan. Sekitar bulan Februari, mereka memutuskan untuk memasung Abril. "Awalnya dipasung itu karena mau ngamuk-ngamuk," jelas Sobri.

Dinding-dinding rumah yang rusak menjadi saksi bisu betapa beratnya beban yang ditanggung keluarga ini. Tumiyati kini berjuang seorang diri, sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci pakaian milik tetangga.

Semasa hidup, sang suami hanya seorang pencari kayu. Sobri mengenang betapa Abril dulu begitu lekat dengan ayahnya. "Ke mana-ke mana ayahnya itu sama Abril. Ke sungai, cari kayu, dia ngikut. Enggak ada masalah kalau masih ada bapaknya," katanya.

jemberBaca Juga: Prestasi LKPJ Jember 2025: Gus Fawait Laporkan PAD Melonjak 32 Persen Tanpa Naikkan Pajak

Kini satu harapan tersisa di benak keluarga. Mereka berharap kehadiran tim Jatim Social Care (JSC) Dinas Sosial Jatim bisa membawa perubahan nyata bagi Abril. "Semoga Abril ini lebih membaik dan sembuh total. Itu harapan dari keluarga," harapnya. (dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#remaja dipasung #Jember #ODGJ #Liposos Dinsos Jember