Radar Jember - Di balik deburan ombak Pantai Selatan Ambulu, ada orang-orang yang merajut harapan dari bilik dapurnya.
Bukan saja urusan memburu rejeki, tapi juga soal pelayanan sejak diberlakukan era baru wisata terintegrasi Watu Ulo-Papuma.
Angin laut sore itu berhembus kencang, membawa aroma khas ikan bakar yang menggoda selera di sepanjang pesisir Pantai Watu Ulo.
Baca Juga: 13.557 Kursi Masih Tersedia, KAI Daop 9 Jember Hadapi Puncak Kepadatan Hari Ini
Di salah satu sudut lapak kuliner, Siti Maryatun, tampak sibuk menata dagangannya. Perempuan asli Ambulu ini bukanlah orang baru, sudah satu dekade ia setia melayani lidah para wisatawan yang berkunjung ke pantai dengan ciri khas pasir hitam ini.
Kini, suasana di tempat Siti bekerja terasa berbeda. Pemerintah telah memberlakukan sistem one gate system atau satu pintu tiket masuk yang terintegrasi Watu Ulo - Papuma.
Hanya dengan membayar Rp 12.500, pengunjung kini bisa langsung menikmati paket lengkap: eksotisme Pantai Watu Ulo dan kemegahan Pantai Pasir Putih Malikan (Papuma) sekaligus.
Bagi Siti, kebijakan ini membawa warna baru yang penuh dengan catatan "plus dan minus". Di satu sisi, ia mengakui adanya kemudahan bagi wisatawan.
"Enaknya itu tiketnya murah, langganan yang mau ke atas (Papuma) jadi cuma lewat satu pintu," tuturnya dengan nada tenang.
Integrasi ini seolah meruntuhkan sekat administratif yang dulu sering membuat pengunjung berpikir dua kali karena harus membayar dua tiket berbeda.
Namun, di balik kemudahan itu, Siti juga merasakan sebuah ironi kecil. Lokasi lapaknya yang berada di sisi Watu Ulo terkadang hanya menjadi tempat "mampir" sekilas bagi wisatawan yang mengejar matahari di sisi Papuma.
"Kalau pengunjung lebih banyak ke arah Papuma sebenarnya. Sore itu kalau sudah pulang dari sana, baru ada yang mampir, tapi banyak juga yang tidak karena sudah capek," ungkapnya.
Meski tingkat kunjungan dirasanya masih fluktuatif, Siti tetap menaruh harapan besar pada sistem ini. Perempuan 45 tahun ini tidak berjalan sendiri, bersama rekan-rekan di paguyuban pedagang, ia terus berupaya menjaga kualitas rasa.
Menariknya, di lingkungan ini, kompetisi bukanlah segalanya. Siti menceritakan bahwa harga dan menu kuliner seafood di sana relatif seragam karena berasal dari pengepul ikan yang sama dari nelayan lokal.
"Kami ya harus distandarkan harganya. Kasihan pengunjung kalau terlalu mahal," kata ibu tiga anak tersebut.
Baginya, menjaga kenyamanan pembeli adalah kunci agar dapur tetap mengepul. Dibantu oleh suami dan anak-anaknya.
Siti tetap membuka lapaknya hingga pukul tujuh malam, memastikan setiap wisatawan yang singgah pulang dengan perut kenyang dan hati senang.
Wisata satu pintu mungkin mengubah pola perjalanan wisatawan, namun bagi Siti Maryatun, semangat untuk melayani tidak pernah berubah.
Di antara pasir hitam Watu Ulo dan putihnya Papuma, ia terus berdiri, menyajikan keramahan Jember dalam setiap piring masakannya. "Namanya orang jualan kan ya. Ada pasang surutnya," tutupnya. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh