Radar Jember - Kopi bukan sekadar komoditas di Desa Sidomulyo. Ia adalah salah satu identitas. Dari kopi inilah, nama desa makin dikenal dunia.
Aroma kopi yang telah disangrai menyeruak dari dalam gudang. Tangan-tangan terampil warga itu bergerak mengemas bubuk kopi robusta dan liberika ke dalam karton satu per satu.
Dari lereng pegunungan Kecamatan Silo inilah, secangkir cerita tentang kemandirian desa sedang ditulis pelan-pelan.
Baca Juga: Dorong Pemerataan Perbaikan Jalan, Begini Komentar Anggota Komisi C DPRD Jember
Kopi jenis robusta dan liberika yang tumbuh subur di kebun-kebun warga setempat sudah lama dikenal punya karakter kuat.
Robusta yang pahit bulat dan beraroma khas. Sedangkan liberika dengan aroma kuat seperti nangka.
Potensi kopi dari tanah Sidomulyo itu tidak lagi berhenti di tangan tengkulak. Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sidomulyo hadir mengambil alih peran itu. Dari membeli, mengolah, mengemas, dan memasarkan kopi warga hingga ke luar negeri.
Kepala Desa Sidomulyo, Kamiludin, menjelaskan, koperasi ini sebenarnya bukanlah hal baru.
Ia merupakan transformasi dari koperasi produsen yang sudah lebih dulu berdiri di desa, kemudian berubah bentuk menjadi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) pada awal 2025.
Perjalanan itu rupanya membawa mereka jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.
“Alhamdulillah pada Juli 2025, kami terpilih menjadi salah satu koperasi desa percontohan tingkat nasional bersama tujuh koperasi lainnya di Indonesia,” ujar pria yang akrab disapa Mas Kades itu.
Dari banyaknya KDMP yang ada di seluruh Indonesia, hanya delapan yang lolos sebagai percontohan nasional.
Dan Sidomulyo ada di dalamnya. KDMP dari Desa Sidomulyo kini menjalankan enam unit usaha sekaligus.
Klinik, apotek, toko sembako, simpan pinjam, logistik, dan pergudangan yang menjadi jantung pengolahan kopi lokal.
Semua itu bukan dibangun dari kucuran dana pemerintah, melainkan dari gotong royong murni anggota dan pengurus.
Baca Juga: Update Terbaru Ledakan di Masjid Jember Ini: Begini Penyebab Ledakan Saat Salat Tarawih 7 Rakaat
Modal Rp 3 miliar yang dijanjikan pemerintah hingga kini pun belum juga turun. Walau begitu, semangat tidak kendur.
Bahkan, di dalam ruang pengolahan kopi, kesibukan itu terasa nyata setiap harinya. Para anggota koperasi bergantian mengoperasikan mesin pengemas, memastikan setiap sachet terisi pas, tersegel rapat, dan siap dikirim.
Dalam sebulan, mampu menghasilkan sekitar ribuan karton kopi sachet yang mengalir ke Lampung, Riau, Jakarta, Surabaya, hingga Malang. “Saat ini kami memproduksi sekitar 1.500 karton kopi sachet per bulan,” terangnya.
Baca Juga: Police Line Dibuka, Polres Jember Pastikan Tak Kurangi Proses Hukum
Puncak kebanggaan itu datang pada akhir 2025, ketika Kopi Sidomulyo untuk pertama kalinya menyeberangi lautan.
Dua kontainer atau sekitar 40 ton Kopi Sidomulyo dikirim ke Mesir. Sebuah pencapaian yang tidak kecil bagi koperasi desa yang seluruhnya berjalan dengan kekuatan sendiri.
Sayangnya, situasi geopolitik di Timur Tengah memaksa jalur ekspor itu sementara terhenti. Tapi mesin produksi tidak berhenti dan harapan untuk kembali ekspor tidak padam.
"Kami sempat mengirim dua kontainer kopi ke Mesir pada akhir 2025, tetapi saat ini ekspor masih tertunda karena situasi politik di Timur Tengah. Meski demikian, produksi terus berjalan untuk memenuhi pasar,” pungkasnya. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh