KALIWATES, Radar Jember - Di setiap toko oleh-oleh di Jember, rak-rak etalase dipenuhi aneka kemasan suwar-suwir. Ada yang dikemas dalam mika kecil, ada pula yang dalam kotak berukuran lebih besar. Warnanya beragam, dari putih, coklat, hingga pink.
Jajanan tradisional ini memang sudah lama dikenal sebagai salah satu ikon oleh-oleh dari Jember. Selain itu yang ramai oleh pembeli adalah tape singkong.
Karyawan Toko Oleh-oleh Khas Jember Rasa Madu, Cindy Kartika, mengatakan suwar-suwir memang tidak selalu ramai dicari setiap waktu.
Baca Juga: Mudik Lebaran Lebih Tenang, BRI Sediakan Perlindungan Asuransi Premi Terjangkau
Namun, peminatnya masih cukup stabil, terutama dari pembeli yang memang mencari oleh-oleh khas daerah. “Saat moment sebelum dan sesudah Lebaran ini pembeli suwar-suwir meningkat. Selain suwar-suwir, juga tape,” terangnya.
Selain moment Lebaran, tambah dia, sebagian pembeli merupakan pendatang yang singgah di Jember, baik untuk urusan pekerjaan maupun sekadar melintas.
Mereka biasanya membeli suwar-suwir sebagai buah tangan untuk keluarga di rumah.
“Masih banyak yang cari suwar-suwir. Biasanya untuk oleh-oleh keluarga atau teman,” ujarnya saat ditemui di toko.
Dari sisi harga, suwar-suwir dijual dengan variasi yang cukup terjangkau.
Untuk kemasan paling kecil, pembeli cukup merogoh kocek sekitar Rp 13 ribu per mika.
Sementara kemasan yang lebih besar tentu dibanderol dengan harga lebih tinggi.
Selain suwar-suwir, produk lain yang juga cukup sering dicari adalah tape.
Baca Juga: Update Proyek Sungai Dinoyo Jember Usai Banjir, Kini Tebing Diperkuat Bronjong
Tape tersebut dijual dalam kemasan kotak dan biasanya dibeli oleh pengunjung yang ingin merasakan langsung cita rasa khas Jember.
Menurut Cindy, tape juga memiliki pelanggan tersendiri.
“Kalau tape biasanya Rp 19 ribu per kotak. Lumayan juga yang beli,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan dua produk tersebut masih menjadi daya tarik utama toko oleh-oleh.
Meski tren camilan terus berubah, suwar-suwir dan tape tetap memiliki tempat di hati penikmat kuliner tradisional.
Bagi sebagian orang, keduanya bukan sekadar makanan ringan, tetapi juga pengingat akan identitas kuliner khas Jember. (dhi/dwi)
Editor : M. Ainul Budi