Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

20 Tahun Pasca Banjir Bandang Panti: Penyintas di Rambigundam Kini Terancam Luapan Sungai Dinoyo

Jumai RJ • Kamis, 12 Maret 2026 | 15:52 WIB

 

TERANCAM: Beberapa rumah tempat pengungsian korban banjir bandang Panti 2006 di Dusun Satrean, Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, terancam setelah plengsengan ambrol.
TERANCAM: Beberapa rumah tempat pengungsian korban banjir bandang Panti 2006 di Dusun Satrean, Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, terancam setelah plengsengan ambrol.

Radar Jember - Banjir bandang panti telah berlalu 20 tahun silam. Bagi warga yang selamat masih ada yang tinggal di daerah Panti.

Tapi ada juga yang harus direlokasi di Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji hingga saat ini.

Kenyataan pahit, mereka juga tinggal di bantaran sungai Dinoyo yang awal maret kemarin banjir.

Air Sungai Dinoyo mengalir pelan kemarin siang (11/3). Warnanya masih keruh kecokelatan. Dari belakang deretan rumah di Dusun Satrean, Desa Rambigundam, jaraknya hanya sekitar dua hingga tiga meter saja.

Di sanalah sebagian korban selamat banjir bandang Panti tahun 2006 tinggal. Dua puluh tahun telah berlalu sejak bencana besar itu. Namun bagi mereka, hidup seolah tak pernah benar-benar jauh dari air berwarna cokelat.

Rumah-rumah itu dibangun sebagai tempat relokasi bagi para penyintas banjir bandang yang menelan banyak korban jiwa tersebut. Mereka dipindahkan dari Panti, berharap kehidupan yang lebih aman. Namun takdir seperti membawa mereka kembali hidup di tepi sungai.

Awal Maret lalu, Sungai Dinoyo kembali meluap. Banjir yang terjadi pada Senin (2/3) itu mengingatkan warga pada kenangan lama yang tak ingin diulang.

Di belakang rumah-rumah relokasi itu, plengsengan sungai kini ambrol sepanjang sekitar 50 meter. Tanah yang tersisa tampak rapuh, seolah menunggu giliran untuk runtuh ketika air sungai kembali meninggi. Bagi warga, pemandangan itu cukup membuat dada sesak.

Sumiyah, 67, warga Dusun Krajan RT 003/RW 011, masih mengingat bagaimana air bercampur lumpur masuk ke rumahnya saat banjir awal Maret lalu. Dapur rumahnya roboh setelah diterjang luapan air Sungai Dinoyo.

Peralatan dapur dan barang-barang rumah tangga tak sempat diselamatkan. Semuanya tertimbun lumpur. Tak hanya rumah Sumiyah.

Beberapa rumah warga lain juga mengalami kerusakan. Pondasi dapur tergerus arus sungai hingga kini terancam ambruk. Lumpur yang terbawa banjir bahkan sempat menutup akses jalan di Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji.

Bagi Jasmito, 46, warga Dusun Satrean, suara air sungai yang meninggi selalu menghadirkan ingatan lama. Ia bersama warga lainnya adalah salah satu penyintas banjir bandang Panti tahun 2006. Bencana yang kala itu menjadi perhatian nasional.

“Kalau banjir besar, air bisa meluap sampai ke pekarangan bahkan masuk halaman rumah,” ujarnya sambil menunjuk ke arah sungai yang mengalir tak jauh dari rumahnya.

Plengsengan di dekat rumahnya kini ambrol sepanjang sekitar 50 meter hingga ke arah hilir. Kondisi itu membuat warga hanya bisa berharap tidak ada banjir besar lagi.

Bagi Jasmito, banjir Sungai Dinoyo kemarin seperti membuka kembali luka lama. Air yang datang membawa lumpur membuatnya teringat pada malam kelam dua puluh tahun lalu di Panti.

Trauma itu belum benar-benar hilang. Kini warga hanya bisa berharap pada perbaikan plengsengan dan rencana normalisasi Sungai Dinoyo agar aliran air lebih lancar.

“Mudah-mudahan saja ada perbaikan. Kalau banjir besar lagi, takutnya sungai menggerus rumah warga,” katanya pelan.

Di tepi Sungai Dinoyo, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Anak-anak masih bermain. Namun setiap kali hujan turun lama di hulu, mata mereka akan kembali menoleh ke arah sungai. Seolah memastikan air cokelat itu tidak kembali datang terlalu dekat. (jum/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #ancaman banjir #Banjir panti #Rambipuji