Radar Jember - Ramadan tahun ini menjadi catatan tersendiri bagi keluarga besar SMK Islam Bustanul Ulum (IBU) Pakusari.
Di tengah suasana Pondok Ramadan yang khusyuk, ratusan siswa mendapatkan kesempatan langka: mendengar langsung kisah perjuangan seorang hafiz Alquran dari Palestina.
Bukan sekadar kajian keagamaan, pertemuan itu menjelma ruang empati, motivasi, sekaligus penguat iman.
Suasana Aula Graha IBU Rabu pagi (4/3) itu terasa hening ketika Sajed Al Haddad, hafiz asal Palestina, mulai berbicara dalam Kajian Spesial Ramadan 1447 H.
Di hadapan 776 siswa kelas X, ia tidak hanya menyampaikan materi, tetapi membagikan kisah nyata tentang bagaimana warga muslim di Palestina menjalani puasa di tengah situasi yang serba tak menentu.
Dengan tutur yang tenang, ia menggambarkan kehidupan yang kerap berada “di antara hidup dan mati”. Ancaman bisa datang kapan saja, namun hafalan Alquran dan ibadah tetap dijaga sepenuh hati.
Kepala SMK IBU, Muslim, menyebut, kehadiran pemateri dari Palestina ini sebagai momen perdana dalam sejarah Pondok Ramadan di sekolahnya.
Sebab biasanya, pemateri berasal dari internal atau lokal. Tetapi, ini kali pertama sekolah kedatangan hafiz langsung dari Palestina.
Dalam penyampaiannya, Sajed Al Haddad mengisahkan pengalaman pribadinya yang rumahnya pernah dibom hingga hancur.
Ia selamat, tetapi harus kehilangan tempat tinggal. Ia juga menceritakan sulitnya keluar dari Palestina karena banyak jalur ditutup.
Ia hanya bisa melewati Yordania sebelum akhirnya mendapatkan akses visa ke Indonesia. Dan visa inilah yang menjadi satu-satunya tujuannya berdakwah.
“Di sana tidak semua warga dibiarkan hidup dengan tenang. Banyak pembunuhan, banyak ancaman. Tapi mereka tetap berpuasa, tetap menghafal Alquran,” kata Muslim mengulas cerita Sajed.
Ia menambahkan, antusiasme para siswa tinggi. Sebab mereka mendengar langsung dari pelaku sejarahnya mengenai bagaimana kondisi di Palestina.
Apalagi, tema Pondok Ramadan kali ini sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa iman itu diuji. Di Palestina ujian itu nyata, berat, bahkan menyangkut nyawa,” tegasnya.
Ia berharap, kehadiran hafiz asal Palestina ini membuka wawasan siswa bahwa umat Islam di belahan dunia lain sedang berjuang dengan cara yang sangat berat.
Sehingga pengalaman tersebut membekas di hati siswa, bukan hanya sebagai cerita, tetapi sebagai penguat komitmen untuk menjaga iman di mana pun berada.
“Kami ingin wawasan mereka lebih luas, agar tumbuh rasa syukur dan empati. Sekaligus menebalkan dan memperkuat keimanan siswa,” imbuhnya. (kin/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh