Radar Jember - Dunia mungkin tampak gelap dalam pandangan matanya, namun di ujung jemarinya, cahaya Alquran menerangi jalan masa depan anak-anak yang senasib dengannya.
Beginilah bakti Rachmat Hadi, seorang pengajar Alquran Braille untuk anak-anak di komunitas kecilnya.
Pagi di Kelurahan Gebang, Patrang, selalu dimulai dengan cara yang sama bagi Rachmat Hadi.
Sebelum matahari benar-benar menyapa Jember, ia sudah rapi, bersiap menyusuri aspal menuju Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Jember.
Terkadang ia dibantu kerabat, namun lebih sering ia mengandalkan aplikasi transportasi online. Bagi orang lain, perjalanan ini mungkin terasa biasa.
Namun bagi Rachmat, setiap langkah adalah petunjuk dalam kegelapan yang ia peluk dengan ikhlas.
Pak Rachmat, begitu sapaan orang-orang kepadanya, tidak bisa melihat dunia dengan matanya.
Selama 33 tahun terakhir, dialah yang menjadi "mata" bagi anak-anak tunanetra lainnya untuk melihat cahaya Allah melalui Alquran braille.
Pria 56 tahun ini seorang pendidik formal. Namun, apa yang ia berikan di luar jam sekolah sejak tahun 1993 silam.
Di saat bel pulang berbunyi pukul 13.00, pengabdian sesungguhnya justru baru dimulai. Ia tidak bergegas pulang, tapi harus membuka kelas mengaji bagi anak-anak tunanetra.
Walau, tidak memungut biaya, Rachmat dengan sabar membimbing jemari mungil murid-muridnya untuk meraba titik-titik timbul di atas kertas tebal yaitu Alquran Braille.
"Membaca Alquran itu hak semua umat Islam, termasuk anak-anak netra. Itu kewajiban, dan bagi kita yang tahu, wajib memberikannya," ucapnya.
Dedikasi ini ia lakukan tanpa iming-iming insentif. Saat guru mengaji di musala atau TPQ mendapat perhatian pemerintah daerah, sosok seperti Rachmat seringkali luput dari daftar.
"Bupati konsen di guru ngaji musala. Kami mengajar di sekolah dan komunitas, jadi pendapatannya dari mana? Ya, dari Allah saja," katanya, dengan nada kepasrahan yang damai.
Mengajarkan Alquran kepada tunanetra bukan sekadar soal kesabaran, tapi juga biaya. Satu mushaf Alquran braille 30 juz bukanlah satu buku tipis.
Melainkan tumpukan 30 buku tebal yang harganya mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Angka yang fantastis bagi banyak keluarga muridnya.
Tak hilang akal, melalui organisasi yang ia geluti, Rachmat bergerilya menghimpun wakaf. Hasilnya mengharukan.
Hampir seluruh anak tunanetra di Jember yang dibimbingnya kini memiliki mushaf sendiri.
Namun, ia tak lantas puas. Dari sekitar 150 tunanetra di Jember, ia meyakinkan bahwa sejauh ini baru 30 persen yang tersentuh pengajaran Alquran.
Kini, ia tengah merintis kaderisasi. Murid-murid yang sudah lancar ia latih menjadi pengajar, menciptakan rantai kebaikan yang tak terputus oleh keterbatasan fisik maupun anggaran.
Di luar ruang kelas, Rachmat adalah pejuang hak sipil. Ia adalah saksi hidup bagaimana Perda Disabilitas Jember No 7 Tahun 2016 betul-betul diperjuangkan sejak 2003, meski baginya, implementasinya masih sebatas tumpukan kertas.
Ia menyayangkan fasilitas publik yang dibangun seolah hanya formalitas, seperti jalur pemandu (guiding block) yang terhalang pedagang, hingga tempat wudu masjid yang sulit diakses.
"Kami tidak minta dihormati berlebihan. Kami hanya ingin dilibatkan, agar bangunan itu benar-benar bisa kami gunakan, bukan asal jadi," tutur Rachmat.
Meski dunianya gelap, masa depan keluarga Rachmat begitu terang. Bersama sang istri, ia berhasil mengantarkan kedua buah hatinya ke bangku kuliah.
Satu menekuni Prodi Psikologi di UIN KHAS Jember, dan putra sulungnya mengikuti jejak sang ayah di Pendidikan Luar Biasa Universitas PGRI Argopuro Jember.
Kini, 33 tahun telah berlalu. Rachmat Hadi tetaplah pria yang sama, sosok yang memilih setia dalam sunyi, memastikan bahwa meski mata tak mampu memandang dunia.
Jemari mereka tetap mampu mengeja firman sang pencipta. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh