Radar Jember - Selama bulan Ramadan, apalagi menjelang Lebaran, risiko kriminalitas dikhawatirkan meningkat.
Karena itu, warga RT 4 RW 44 Kelurahan Tegal Besar tidak hanya mengandalkan aparat dalam menjaga kondusivitas lingkungan, tetapi juga memperkuat sistem keamanan berbasis swadaya.
DI sudut RT 4 RW 44, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, terdapat sebuah pos kamling berdiri.
Dinding dan atapnya dari seng. Lampu bohlam menggantung, begitu juga dengan kamera CCTV.
Sekilas tampak biasa. Namun, dari tempat itulah denyut keamanan kampung dijaga setiap malam.
Ketua RT 4 RW 44 Kelurahan Tegal Besar, Ahmad, menuturkan bahwa pihaknya menyewa satu orang waker atau penjaga malam.
Setiap malam, penjaga itu berkeliling hingga dini hari, memastikan tak ada gerak-gerik mencurigakan.
“Penjaga fokus patroli keliling kampung sampai pagi. Jadi warga bisa istirahat dengan tenang,” ujarnya.
Tak hanya itu, sejumlah CCTV dipasang di titik-titik strategis seperti perempatan dan area vital.
Poskamling yang sederhana tadi pun kembali diaktifkan. Bukan sekadar tempat ronda, melainkan pusat aktivitas warga saat malam Ramadan.
Menariknya, penguatan keamanan di kampung tersebut tidak melulu dengan cara formal. Selepas salat Tarawih, warga menggelar tadarus Alquran secara bergilir.
Aktivitas itu membuat kampung tetap hidup, lampu-lampu rumah masih menyala, dan orang-orang masih terjaga.
“Setiap tahun selama Ramadan warga di sini rutin menggelar tadarusan. Secara tidak langsung ini juga ikut menjaga keamanan,” tandas Ahmad.
Kebersamaan itulah yang menjadi benteng utama. Komunikasi antarwarga terjalin erat, saling mengenal satu sama lain, dan cepat tanggap jika ada hal yang mencurigakan.
Sistem portal satu pintu yang diterapkan juga dinilai efektif membatasi akses keluar-masuk lingkungan.
“Alhamdulillah, di sini belum pernah ada kejadian pencurian. Karena aksesnya satu pintu, lebih mudah dikontrol,” katanya.
Bagi warga RT 4 RW 44, keamanan bukan semata soal ronda atau kamera pengawas. Lebih dari itu, keamanan tumbuh dari rasa peduli dan kebersamaan.
Dari pos kamling berdinding seng dan tadarus yang digelar sederhana. Solidaritas dirawat dan kampung pun tetap aman hingga pagi. (yul/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh