LOJEJER, Radar Jember – Intensitas curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan Sungai Bedadung meluap.
Akibatnya, jalan desa di Dusun Sulakdoro, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, yang menghubungkan Desa Lojejer dengan Desa Wonosari, Kecamatan Puger, akhirnya putus.
Meski jalan tersebut bukan akses utama dan masih terdapat jalur alternatif, kondisi putusnya badan jalan tetap mengganggu aktivitas warga.
Selain itu, tembok pagar bangunan gudang di sisi timur jalan juga terancam ambrol karena gerusan air sudah mendekati pondasi bangunan.
Hari, warga setempat, mengatakan jika kerusakan tidak segera ditangani, maka dikhawatirkan akan berdampak pada rumah warga di sekitar lokasi.
“Jalan desa itu sudah putus dan hanya bagian pondasi pagar tembok gudang yang masih bertahan. Kalau hujan deras turun lagi dan sungai kembali banjir, jalan bisa terus tergerus,” ujarnya.
Menurutnya, longsoran semakin melebar. Di sekitar lokasi juga terlihat barongan bambu yang terbawa arus banjir beberapa waktu lalu.
Arus sungai dari arah barat menghantam beton penahan jalan hingga ambrol.
Sementara, plengsengan jalan sebelumnya telah dipasang pancang beton. Namun, derasnya arus sungai setiap kali banjir membuat pancang tersebut tidak mampu menahan gerusan.
Semenetara, di sekitar pancang beton juga terdapat pasangan bronjong berisi batu.
Kepala Desa Lojejer, Mohammad Soleh, mengatakan, pihak pemerintah desa telah menutup akses jalan pasca kejadian.
Rambu darurat dari bambu dan papan peringatan telah dipasang untuk mencegah warga melintas di area longsoran yang rawan ambrol.
“Kami sudah berkirim surat ke Dinas PU SDA provinsi setelah banjir pertama. Setelah banjir besar berikutnya, jalan desa akhirnya benar-benar putus,” jelasnya.
Soleh menambahkan, pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air (DPUSDA) Provinsi telah meninjau lokasi jalan yang ambrol.
Ia berharap perbaikan segera dilakukan agar kerusakan tidak semakin meluas.
“Kalau tidak segera diperbaiki, rumah warga dan satu bangunan gudang bisa ikut terdampak. Saat ini jalan sudah tidak bisa dilalui kendaraan, hanya pejalan kaki yang bisa melintas, itu pun berbahaya karena bagian bawah jalan sudah tergerus,” pungkasnya. (jum/dwi)
Editor : M. Ainul Budi