Radar Jember - Kepemimpinan daerah bukan sekadar memenangkan kontestasi, tetapi keberanian menavigasi kepentingan di dalam "hutan" birokrasi yang kompleks.
Premis ini menjadi inti dari bedah buku Babad Alas karya Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, yang dihadiri langsung oleh Bupati Jember Muhammad Fawait, di Aula FISIP Universitas Jember, (13/2).
Dalam paparannya, Bima Arya menegaskan bahwa realitas memimpin jauh lebih terjal dibanding masa kampanye.
Jika saat pemilu lawan politik terlihat jelas, maka di dalam pemerintahan, garis antara kawan dan lawan seringkali kabur.
“Beratnya kampanye itu tidak seujung kuku dibandingkan menjalankan pemerintahan. Saat kampanye, lawan terlihat jelas. Tetapi ketika memimpin pemerintahan, tidak selalu jelas siapa kawan dan siapa yang berseberangan,” kata mantan Wali Kota Bogor itu.
Terinspirasi dari tokoh pewayangan Bima yang membuka Alas Amarta, ia menekankan bahwa pemimpin harus memadukan keberanian dengan kebijaksanaan.
Baginya, kebijakan publik tidak boleh hanya menjadi kalkulasi politik jangka pendek, melainkan harus berpijak pada nilai moral, inklusivitas, dan keadilan sosial —nilai-nilai yang ia serap dari pemikiran tokoh seperti Soe Hok Gie hingga Nurcholish Madjid.
Cermin Bagi JemberBagi Bupati Jember, Gus Fawait, menilai catatan perjalanan Bima Arya adalah cermin sekaligus validasi atas tantangan yang ia hadapi di Jember.
Sejak awal menjabat, ia dihadapkan pada rapor merah kemiskinan ekstrem dan angka stunting yang tinggi di Jawa Timur.
Merespons tantangan tersebut, Jember melakukan "bedah alas" versinya sendiri melalui reformasi pelayanan publik.
Fokus utamanya adalah memanusiakan warga melalui akses kesehatan gratis (Universal Health Coverage) dan mendekatkan birokrasi administrasi kependudukan hingga ke tingkat desa.
Tak hanya soal layanan, Gus Fawait juga menekankan pentingnya kemandirian fiskal.
Ia mendorong Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk bergerak taktis di sektor-sektor yang tidak terjangkau swasta.
Hasilnya mulai terlihat pada lonjakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jember dalam satu tahun terakhir. (mau/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh