Radar Jember - Harga kedelai yang terus naik memukul perajin tempe di Jember.
Biaya produksi melonjak, sementara harga jual sulit dinaikkan. Di tengah tekanan itu, Maryono memilih bertahan.
Subuh belum lama berlalu ketika asap tipis mulai keluar dari dapur kecil di rumah Maryono.
Di sudut Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, tungku sederhana itu kembali dinyalakan.
Di atasnya, panci besar berisi kedelai perlahan mendidih. Bunyi air bergolak berpadu dengan aroma kedelai yang khas, menandai awal aktivitas produksi tempe yang telah ia jalani puluhan tahun.
Rumah produksi Maryono jauh dari kesan pabrik. Dinding bata merah masih terbuka, lantai semen tak sepenuhnya rata.
Rak kayu bambu buatan sendiri berdiri di sudut ruangan, dipenuhi plastik-plastik berisi kedelai yang sedang difermentasi.
Kesederhanaan itu justru menjadi saksi ketekunan seorang perajin tempe kecil yang terus bertahan.
Dengan tangan yang sudah terbiasa bekerja, Maryono memeriksa satu per satu tempe yang sedang diproses.
Ia meraba plastik, melihat warna kedelai, memastikan ragi bekerja sebagaimana mestinya. Bagi Maryono, kualitas adalah harga diri.
“Kalau fermentasinya tidak bagus, tempe bisa cepat rusak,” katanya sambil terus bekerja.
Namun beberapa bulan terakhir, beban usaha terasa semakin berat. Harga kedelai yang terus naik menjadi pukulan paling keras.
Saat ini, harga kedelai mencapai Rp 9.500 per kilogram. Padahal sebelumnya masih berkisar Rp 8.500 hingga Rp 9.000.
Kenaikan yang bagi sebagian orang mungkin terlihat kecil, tapi bagi perajin tempe skala rumahan seperti Maryono, sangat menentukan.
“Naiknya sudah mulai dari sebelum tahun baru,” ujarnya.
Hampir seluruh kedelai yang ia gunakan adalah kedelai impor, membuatnya tak bisa berbuat banyak ketika harga melambung. Setiap hari ia harus menghitung ulang biaya produksi agar usahanya tetap berjalan.
Kenaikan harga bahan baku itu berdampak langsung pada jumlah produksi. Jika dulu ia mampu mengolah hingga 1,8 kuintal kedelai per hari, kini hanya sekitar satu kuintal.
Ruang produksi yang dulu padat aktivitas kini terasa lebih lengang. Jumlah plastik tempe yang digantung pun berkurang.
Pengurangan produksi membuat Maryono harus mengambil keputusan berat. Ia terpaksa mengurangi satu orang pekerja.
Kini, sebagian besar pekerjaan ia tangani sendiri. Dari merebus, merendam, mengupas kulit kedelai, mencampur ragi, hingga membungkus. Semua dilakukan dengan tenaga dan kesabarannya sendiri.
“Sekarang ya dikerjakan sendiri. Lumayan capek, tapi mau bagaimana lagi,” tuturnya.
Ia mengencangkan ikat pinggang, berusaha menekan pengeluaran agar usaha kecilnya tetap hidup.
Di tengah tekanan biaya, Maryono memilih tidak menaikkan harga jual. Sebungkus tempe ukuran normal masih ia lepas dengan harga Rp 5.000.
Harga yang sudah bertahan sejak masa pandemi Covid-19.
“Saya tidak enak kalau harus menaikkan harga. Pembeli juga kebanyakan langganan lama,” katanya.
Ia sadar, tempe adalah lauk rakyat. Kenaikan harga sedikit saja bisa membuat pelanggan berpikir ulang.
Oleh karena itu, meski keuntungan menipis, Maryono memilih bertahan dengan harga lama. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh