radar jember - JEMBER dikenal sebagai salah satu “rumah besar” tembakau dunia, usaha perkebunan Tembakau Jember dimulai sebelum tahun 1850.
Tokoh yang mempelopori usaha tembakau di Jember adalah George Birnie. Pada 21 Oktober 1859, ia bersama Mathiesen dan van Gennep mendirikan sebuah perusahaan tembakau bernama NV Landbouw Maarschapij Oud Djember (LMOD).
Jember memiliki tembakau yang tidak bisa tumbuh ditempat lain yaitu Na-Oogst. Tapi nggak banyak yang tahu kalau tembakau Na-Oogst dari sini punya segudang fakta unik yang bikin melongo.
Na-Oogst sendiri berasal dari bahasa Belanda yang artinya setelah panen.
Jadi, tembakau ini ditanam setelah musim tanam utama selesai, biasanya di musim kemarau.
Uniknya, justru di kondisi kering inilah kualitas daunnya bisa tampil maksimal dan super istimewa.
Fakta seru lainnya, tembakau Na-Oogst Jember ini bukan tembakau sembarangan.
Daunnya sering dipakai sebagai pembungkus cerutu (wrapper) kelas dunia.
Teksturnya halus, lentur, dan warnanya cakep. Nggak heran kalau tembakau ini jadi rebutan pasar internasional, dari Eropa sampai Amerika.
Banyak orang menikmati cerutunya, tapi nggak sadar kalau “jaket luar”-nya berasal dari ladang Jember.
Yang jarang diketahui, proses panen dan pengolahan Na-Oogst masih super tradisional dan penuh ketelitian.
Daunnya dipetik satu per satu sesuai tingkat kematangan, lalu keringkan di gudang tradisional dengan rangka bambu dan dinding welit atau daun tebu.
Soal alam, Jember punya kombinasi yang susah ditiru daerah lain. Tanahnya yang kaya mineral, angin laut dari selatan, dan cuaca kering yang stabil bikin daun Na-Oogst punya ciri khas sendiri.
Bahkan, petani lokal percaya tiap petak lahan bisa menghasilkan aroma yang berbeda.
Yang paling keren, meski namanya masih pakai istilah Belanda, tembakau Na-Oogst Jember tetap hidup dan berkembang berkat kearifan lokal.
Ilmu tanamnya diwariskan turun-temurun, dicampur pengalaman dan insting para petani.
Jadi, setiap helai daun Na-Oogst bukan cuma hasil pertanian, tapi juga cerita panjang tentang tradisi, alam, dan keahlian orang Jember yang belum banyak orang tahu. (ona/dwi)
Editor : M. Ainul Budi