Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sungai Petung Jember Terbelah Dua Sejak 2022, Warga Pakis Minta Alur Dikembalikan ke Jalur Lama

Jumai RJ • Kamis, 5 Februari 2026 | 04:00 WIB
KONTRAS: Sungai Petung yang menjadi dua. Sisi timur (kanan) adalah sungai yang baru terbentuk setelah banjir bandang tahun 2022 lalu.
KONTRAS: Sungai Petung yang menjadi dua. Sisi timur (kanan) adalah sungai yang baru terbentuk setelah banjir bandang tahun 2022 lalu.

Radar Jember – Lumpur masih menempel di lantai rumah. Batu dan ranting sisa banjir berserakan di halaman.

Di Dusun Pertelon, Desa Pakis, Kecamatan Panti, suasana gotong royong membersihkan sisa banjir bandang masih berlangsung, kemarin (4/2).

Namun di balik kesibukan itu, kegelisahan tak bisa disembunyikan.

Warga kerap berhenti sejenak, memandang ke arah Sungai Petung.

Sungai yang dulu hanya satu jalur, kini menjadi dua dan justru sungai baru itulah yang jadi sumber kekhawatiran.

Pertanyaan yang sama terus muncul di benak mereka, mengapa setiap hujan deras, air justru mengalir deras ke sisi timur?

Padahal, sungai di sisi timur itu baru terbentuk setelah banjir bandang tahun 2022 silam.

Sebelumnya, di sana hanyalah hamparan sawah tempat warga menggantungkan hidup.

Akibat banjir bandang yang terjadi Senin (2/2), warga mendesak Camat Panti dan Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Jember agar alur Sungai Petung dikembalikan ke kondisi semula. Yakni di sisi barat.

“Awalnya sungai hanya di sisi barat. Yang di sisi timur itu sawah,” ujar Mistiono (55), warga yang rumahnya berada tak jauh dari bantaran sungai.

Menurutnya, setelah banjir bandang 2022, tiba-tiba muncul sungai baru di sisi timur.

Sejak itu, tambah dia, arah aliran air berubah. Setiap hujan deras, air lebih sering meluap ke alur baru, yaitu di sisi timur.

Dampaknya perlahan tapi pasti. Sawah di bagian sungai sisi timur kerap ambrol sedikit demi sedikit.

Mistiono menilai, jika warga yang tinggal di sekitar sungai baru justru diminta relokasi, hal itu terasa tidak adil.

“Sungai baru itu muncul karena banjir. Sementara sungai lama di sisi barat jarang dilewati air saat banjir,” katanya.

Mistiono yang juga sebagai perangkat Desa Pakis menilai solusi paling aman adalah menutup alur sungai baru dari hulu dan mengarahkan aliran air kembali ke sungai lama.

Ia mengakui, upaya penanganan sebenarnya sudah dilakukan.

Sebelum banjir bandang Senin (2/2) lalu, Dinas PU BMSDA Jember telah memasang bronjong dan melakukan normalisasi sungai menggunakan alat berat.

Namun, menurut warga, langkah itu belum cukup.

Aspirasi juga disampaikan langsung warga dalam pertemuan yang dihadiri Camat Panti dan Kepala Desa Pakis.

Ketua RT 007/RW 002 Desa Pakis, Joko Prasetyo menambahkan, mayoritas warga yang hadir dalam pertemuan itu adalah ibu-ibu.

Sebab, mereka yang selama ini paling merasakan dampak banjir, dari dapur yang terendam hingga anak-anak yang harus mengungsi.

Pihaknya menilai, bila hanya dipasang bronjong, maka tidak akan menyelesaikan masalah.

“Bronjong sudah terpasang, banjir bandang tetap terjadi dan bahkan menelan korban jiwa,” tuturnya.

Menurut Joko, jika sungai baru di sisi timur masih dibiarkan, maka warga yang rumahnya berada di sekitar sungai akan terus menjadi korban.

Ia menyebut beberapa rumah yang kerap terdampak, di antaranya milik Haris, Mistiono, Yuliatin, serta rumah almarhum Abdul Wahid.

“Dulu sebelum banjir bandang tahun 2022, rumah-rumah itu aman. Di belakangnya sawah, bukan sungai,” katanya. (jum/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #Sungai Baru #Kecamatan Panti #banjir bandang