Radar Jember – Hujan yang saat ini hampir setiap hari mengguyur Jember berpotensi munimbukan berbagai penyakit.
Salah satu yang perlu diwaspadai adalah demam berdarah dengue (DBD).
Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Hendra Kurniawan, menjelaskan bahwa fluktuasi suhu yang tajam memiliki dampak langsung terhadap sistem imun manusia.
Apalagi, beberapa minggu kemarin Jember mulai tidak hujan lagi. Tapi, akhir-akhir ini justru kembali hujan hampir setiap hari.
Kondisi ini dinilai dapat memicu penurunan daya tahan tubuh, terutama bila tidak diimbangi dengan pola hidup sehat.
Akibatnya, masyarakat menjadi lebih rentan terserang berbagai penyakit, baik penyakit infeksi maupun noninfeksi, khususnya saat kebersihan lingkungan kurang terjaga.
“Perubahan suhu dari panas ke dingin atau sebaliknya membuat tubuh bekerja lebih keras untuk beradaptasi. Jika kondisi fisik kurang prima atau istirahat tidak cukup, maka daya tahan tubuh akan menurun,” tegasnya.
Menurut Hendra, gangguan saluran pernapasan menjadi salah satu keluhan kesehatan yang paling sering muncul saat cuaca tidak stabil.
Penyakit seperti asma, bronkitis, hingga pneumonia cenderung meningkat, terutama pada individu yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
“Kelembapan udara yang tinggi dan kualitas udara yang menurun saat hujan dapat memperparah gangguan pernapasan,” jelasnya.
Selain penyakit pernapasan, risiko penyakit menular juga mengalami peningkatan signifikan, khususnya Demam Berdarah Dengue (DBD).
Hujan yang turun secara tidak teratur kerap meninggalkan banyak genangan air di lingkungan sekitar, mulai dari wadah bekas, talang air, hingga selokan yang tidak mengalir lancar.
“Genangan air tersebut menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Jika tidak dikendalikan, populasi nyamuk bisa meningkat dengan cepat,” ujar Hendra.
Ia menegaskan pentingnya penerapan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin melalui langkah 3M Plus.
Yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat genangan air, serta upaya tambahan seperti penggunaan lotion anti nyamuk dan pemasangan kelambu.
Selain itu, masyarakat juga diimbau menjaga daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan bergizi seimbang, cukup istirahat, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam tinggi, nyeri sendi, atau tanda-tanda infeksi lainnya.
“Kewaspadaan dan peran aktif masyarakat sangat penting untuk mencegah peningkatan kasus penyakit selama musim hujan,” terangnya.
Tak hanya DBD, penyakit lain seperti diare, infeksi saluran pencernaan, dan infeksi kulit juga berpotensi meningkat.
Kondisi lingkungan yang lembap sangat mendukung pertumbuhan bakteri dan jamur.
“Ketika sanitasi buruk dan kebersihan lingkungan tidak dijaga, penularan penyakit akan lebih mudah terjadi,” tambahnya.
Hendra menekankan bahwa anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan terdampak kondisi cuaca ekstrem.
Anak-anak memiliki sistem imun yang belum sepenuhnya matang, sementara lansia mengalami penurunan daya tahan tubuh secara alami.
“Kedua kelompok ini membutuhkan perlindungan ekstra, baik dari sisi lingkungan, asupan gizi, maupun pola hidup sehat,” katanya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh