Radar Jember - Minat baca masyarakat kini mengalami pergeseran seiring pesatnya perkembangan teknologi digital.
Jika dahulu aktivitas membaca identik dengan buku cetak, kini layar gawai justru menjadi medium dalam mengakses informasi.
Perubahan ini memunculkan pertanyaan baru, apakah tren literasi membaca benar-benar menurun, atau sekadar berganti wajah.
Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Fitrotul Mufaridah, menjelaskan bahwa tren membaca saat ini lebih mengarah pada membaca digital atau digital reading.
Baca Juga: Ini Pembagian Grup Babak 16 Besar Liga 4 zona Jatim, Persid Jember Masuk Grup Neraka?
Menurutnya, membaca tidak lagi bisa dipahami secara sempit hanya melalui buku fisik.
“Membaca mengalami pergeseran, baik dari sisi konten yang dibaca maupun dari medianya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebiasaan membaca digital kini tidak hanya dilakukan oleh generasi muda, tetapi juga generasi tua.
Akses informasi yang cepat melalui ponsel pintar, laptop, dan perangkat digital lain membuat aktivitas membaca semakin fleksibel dan mudah dilakukan di mana saja.
Kondisi ini menandai lahirnya kebiasaan baru dalam praktik literasi masyarakat.
Namun demikian, Fitrotul mengingatkan bahwa jika minat membaca benar-benar mengalami penurunan, dampaknya akan sangat serius.
“Jika minat baca menurun, maka bisa dipastikan nilai literasi dan peradaban juga akan mengalami kemunduran,” tegasnya.
Membaca, kata dia, merupakan kunci untuk membuka jendela peradaban manusia.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa menurunnya minat membaca berpotensi menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan.
Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia.
“Pada akhirnya, harkat dan martabat manusia itu sendiri bisa ikut menurun,” tambahnya.
Terkait anggapan bahwa penggunaan gawai justru menjauhkan anak dari literasi, Ia menilai pandangan tersebut perlu diluruskan.
Menurutnya, apa pun yang dibaca melalui ponsel, laptop, maupun media digital lainnya tetap termasuk praktik literasi.
“Lebih khusus lagi, itu merupakan bagian dari literasi digital,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya pendampingan dan pengelolaan konten bacaan agar aktivitas membaca digital tetap berkualitas.
Tanpa arahan yang tepat, gawai justru bisa mengalihkan perhatian dari bacaan bermakna ke konten hiburan semata.
Untuk menjaga dan membangkitkan minat baca masyarakat, Ia memberikan sejumlah saran kepada pemerintah dan pengelola perpustakaan.
Di antaranya, memperbanyak variasi layanan media membaca digital di ruang publik, melakukan kampanye pentingnya dan asyiknya membaca, baik cetak maupun digital, hingga menyelenggarakan lomba membaca digital dalam bentuk kompetisi menarik.
Selain itu, edukasi tentang pola membaca yang sehat dan menjaga kesehatan mata juga dinilai penting, terutama melalui media digital yang lebih digemari masyarakat.
“Jika dikelola dengan baik, membaca digital justru bisa menjadi peluang besar untuk memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat,” pungkasnya. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh