Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Banjir Tinggalkan Ancaman, Warga Tegal Besar Jember Bergerak Sendiri Amankan Tanggul yang Ambrol

Sidkin • Selasa, 30 Desember 2025 | 13:40 WIB
SWADAYA: Warga swadaya membangun pagar pembatas dari bambu di lokasi tanggul yang ambrol akibat banjir di perumahan Villa Indah Tegal Besar, kemarin.
SWADAYA: Warga swadaya membangun pagar pembatas dari bambu di lokasi tanggul yang ambrol akibat banjir di perumahan Villa Indah Tegal Besar, kemarin.

Radar Jember - Warga di sekitar Sungai Bedadung memilih bergerak bersama setelah banjir pertengahan Desember lalu.

Kekhawatiran akan potensi longsor membuat mereka tidak menunggu bantuan datang.

Upaya sederhana pun dilakukan demi keselamatan lingkungan sekitar. Gotong royong menjadi pilihan utama warga.

Secara swadaya, warga memasang pagar bambu di sepanjang sekitar 15 meter tanggul Sungai Bedadung yang ambrol.

Lokasinya berada di kawasan Perumahan Villa Indah Tegal Besar, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, tepatnya di Blok E.

Pagar bambu tersebut bukan dimaksudkan sebagai penahan banjir, melainkan sebagai pembatas sekaligus penanda agar warga lebih berhati-hati.

“Ini murni inisiatif warga untuk memberi tanda supaya tidak terlalu ke pinggir sungai,” ujar Ketua RT 05 RW 13 Kelurahan Tegal Besar, Tri Wahyudi, kemarin.

Tri menjelaskan, kekhawatiran utama muncul dari aktivitas anak-anak yang sering bermain di sekitar sungai.

Kondisi tanggul yang rusak membuat warga takut anak-anak terpeleset atau jatuh ke sungai tanpa disadari.

Selain itu, pagar juga berfungsi membatasi orang yang memancing agar tidak keluar-masuk sembarangan.

“Rumah dekat lubang, banyak anak kecil, takut tiba-tiba main dan jatuh ke sungai,” katanya.

Menurutnya, kondisi jalan di tepi sungai juga semakin sempit pascabanjir.

Dahulu, jalan tersebut cukup lebar untuk dilalui, namun kini menyempit dan rusak akibat longsoran.

Warga sempat mempertanyakan rencana perbaikan tanggul karena saat hujan, jalur tersebut rawan dan sulit dilewati.

“Kalau hujan kami khawatir, jalannya makin sempit dan longsor bisa terjadi lagi,” ucap Tri.

Ia menegaskan, pagar bambu itu sama sekali bukan solusi pengamanan banjir.

Fungsinya murni sebagai pengingat visual agar masyarakat lebih waspada terhadap potensi longsor yang masih ada.

"Dengan adanya tanda tersebut, warga diharapkan tidak berjalan terlalu ke tepi sungai. Jadi bukan untuk pengamanan, tapi tanda supaya masyarakat lebih hati-hati,” jelasnya.

Ke depan, warga berharap adanya pembangunan tembok penahan sungai yang benar-benar kuat dan permanen.

Tri menilai, pada banjir sebelumnya, tekanan air dari dalam permukiman justru lebih tinggi dibanding aliran sungai, sehingga tanggul jebol.

a berharap pemerintah juga memikirkan sistem aliran air agar tidak kembali menekan tanggul.

“Harapan kami ada tembok penahan yang kuat dan jalur airnya juga dipikirkan dengan matang,” pungkasnya. (kin/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#banjir Jember #Sungai Bedadung #potensi longsor