Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kitab Kuning Masuk Era Digital: Seminar Nasional UIN KHAS Tekankan Pentingnya Melestarikan Turats Lewat Teknologi

M Adhi Surya • Rabu, 10 Desember 2025 | 13:55 WIB
PENYAMPAIAN MATERI: Sekretaris Nahdlatul Turats Dr H Ahmad Karomi (tengah) memaparkan urgensi beradaptasi dengan kemajuan teknologi dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah UIN
PENYAMPAIAN MATERI: Sekretaris Nahdlatul Turats Dr H Ahmad Karomi (tengah) memaparkan urgensi beradaptasi dengan kemajuan teknologi dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah UIN

Radar Jember - Kitab kuning tak lagi hanya bisa dibaca di pesantren atau rak kayu tua, warisan keilmuan Islam itu perlahan mulai hadir di layar gawai.

Dari lembaran berdebu, bertransformasi jadi file yang bisa diakses siapa saja.

Semangat itulah yang mengemuka dalam Seminar Nasional Digitalisasi Turats dalam yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember bersama Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jawa Timur, kemarin (9/12).

Dengan menghadirkan tiga narasumber, di antaranya M Adib Misbachul Islam dari UIN Jakarta , Dr H Ahmad Karomi selaku Sekretaris Nahdlatul Turats, dan Dr Abdul Wadud Nafis selaku dosen UIN KHAS Jember.

Adib Misbachul Islam, menegaskan bahwa turats atau kitab klasik merupakan peninggalan berharga para pendahulu yang menyimpan khazanah keilmuan Islam Nusantara.

Menurutnya, digitalisasi tidak sekadar mengarsipkan naskah kuno, tetapi juga membuka ruang baru bagi generasi muda untuk memahami sejarah dakwah Islam.

“Turats adalah peninggalan yang masih bisa kita nikmati hari ini. Naskah-naskah Islam Nusantara perlu diangkat sebagai konten dakwah agar masyarakat mengenal akar sejarahnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, banyak naskah turats lokal yang tersebar di pesantren dan belum terdokumentasi secara baik.

Dengan digitalisasi, proses pelestarian menjadi lebih mudah dan efisien.

“Kita bisa menjangkau manuskrip dari berbagai daerah, tanpa takut rusak atau hilang karena faktor usia. Ini bentuk penghormatan terhadap karya ulama terdahulu,” tambahnya.

Sementara itu, Ahmad Karomi memaparkan pentingnya metode sistematis dalam mengidentifikasi, mendigitalisasi, mengkatalogisasi, hingga melakukan tahqiq terhadap naskah turats.

Menurutnya, gerakan Nahdlatul Turats kini telah melibatkan para akademisi dan santri lintas generasi melalui alat yang direkomendasikan oleh Perpusnas. 

Dalam kesempatan yang sama, Abdul Wadud Nafis, dosen UIN KHAS Jember, menepis kekhawatiran sebagian kalangan yang menilai digitalisasi dapat mengurangi keberkahan kitab klasik.

Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak perlu dibenturkan dengan nilai-nilai spiritual.

“Justru alat ini menjadi fasilitas agar umat Islam lebih mudah mengakses kitab klasik tanpa mengurangi barokahnya,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua LPPD Jawa Timur Prof Dr H Abd Halim Soebahar menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kemajuan pesantren melalui inovasi teknologi.

“Pesantren harus adaptif terhadap zaman. Pemanfaatan teknologi digital dalam dakwah dan pelestarian turats menjadi bukti bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan,” pungkasnya. (dhi/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#digitalisasi #Digitalisasi Manuskrip Kuno #kitab kuning #UIN KHAS Jember