Radar Jember – Upaya pemenuhan hak anak dan remaja penyandang disabilitas di Jember terus digencarkan.
Untuk itu, perlu kerja kolaboratif lintas sektor agar persoalan disabilitas tidak ditangani secara parsial.
Direktur Tanoker Farha Ciciek Abdul Kadir Assegaf mengatakan, isu tersebut terlalu kompleks jika hanya dibebankan kepada satu lembaga.
“Masalah disabilitas tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Kita perlu melibatkan semua unsur lintas sektor untuk memastikan pemenuhan hak-hak dasar anak dan remaja penyandang disabilitas,” ujarnya.
Tanoker bersama Persatuan Penyandang Disabilitas dan Center Advokasi (Perpenca), beserta sejumlah lembaga tengah memfasilitasi pembentukan kelompok kerja untuk memperkuat ruang pemenuhan hak.
Mulai dari akses sosial, pendidikan, hingga kehidupan layak bagi penyandang disabilitas.
Forum tersebut juga menjadi wadah koordinasi antarinstansi, baik pemerintah maupun organisasi dan komunitas kemasyarakatan.
Ciciek, sapaan akrabnya, menyebut, isu inklusi disabilitas di Indonesia telah dibahas sejak dua dekade lalu.
Namun implementasinya masih membutuhkan dorongan kuat agar program berjalan lebih sistematis.
Karena itu, ia mendorong validasi Forum Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) yang nantinya berkembang menjadi Community Based Inclusive Development (CBID).
“Harapan kami, Jember bisa menjadi pelopor penggerak CBID sebagai evolusi dari RBM,” imbuhnya.
Ciciek menyebut, sejatinya RBM ini sudah cukup baik, namun perspektif khalayak masih menilai RBM itu hanya berfokus pada rehabilitasi medis dan penyediaan layanan dasar di tingkat komunitas.
Sementara CBID Berfokus pada inklusi sosial, pemerataan kesempatan, dan pembangunan umum untuk semua orang dengan disabilitas, melampaui aspek medis.
Dengan itu, dalam validasi yang juga didukung NLR Indonesia dan Liliana Foundation nantinya diharapkan menjadi ruang bersama untuk menyamakan persepsi, merumuskan langkah jangka panjang, dan memastikan setiap pihak memiliki kontribusi yang jelas.
“Inklusi tidak hanya soal ketersediaan layanan, tapi bagaimana komunitas bergerak bersama,” pungkasnya. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh