Radar Jember - Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tidak hanya berperang melawan virus HIV, tapi juga berhadapan dengan hal yang boleh jadi lebih mematikan, yaitu stigma.
ODHA sering dianggap sebagai aib, pendosa, hingga mendapat perlakuan diskriminatif.
Kondisi itu disinyalir membuat sebagian ODHA menghentikan pengobatan.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember mencatat, ada sebanyak 2.629 ODHA yang mengkonsumsi antiretroviral (ARV), namun 1.737 lainnya putus berobat.
Ini cukup berbahaya dan perlu motivasi agar kembali berobat.
Dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember (FKM Unej), Citra Anggun Kinanthi, menyampaikan, pasien menghentikan terapi bukan karena faktor medis, melainkan tekanan sosial.
Bahkan kata dia, stigma buruk terhadap ODHA tidak hanya terjadi di masyarakat, ada pula oknum nakes yang turut mengecap buruk pasien HIV.
“Ada segelintir oknum di faskes, yang bukannya memberikan rasa aman, malah turut menghakimi. Padahal pasien sudah terlanjur sakit, yang ada pasien malah enggan melanjutkan berobat,” tuturnya.
Lebih jauh, Citra menjelaskan HIV merupakan salah satu penyakit yang tingkat kerahasiaannya tinggi.
Hasil skrining HIV wajib dijaga oleh semua pihak, termasuk tenaga kesehatan.
Namun kultur sebagian masyarakat yang gemar bergunjing, menurutnya, membuat status kesehatan ODHA rentan tersebar tanpa kontrol.
“Kalau ada yang menderita HIV seharusnya tidak disebar, sehingga penderita bisa nyaman berobat. Di Jember ada sejumlah Puskesmas yang ketika jam operasionalnya sudah tutup tapi tetap melayani ODHA, tujuannya untuk merahasiakan status ODHA nya,” ungkap Citra.
Selain stigma, alasan lain ODHA berhenti mengonsumsi ARV adalah faktor kejenuhan.
Banyak pasien merasa bosan karena ARV harus diminum setiap hari, di jam yang sama, seumur hidup.
Tidak sedikit ODHA yang sudah merasa sehat dan fit akhirnya menyepelekan obat, lalu kondisi kesehatannya turun kembali.
“Ada ODHA yang saat drop baru minum obat lagi,” katanya.
Menurutnya, ketika ARV tidak diminum secara teratur, dampaknya bisa jauh lebih serius.
Virus dapat bereplikasi kembali dan memicu resistensi obat.
Dalam kondisi itu, pilihan rejimen terapi akan semakin terbatas.
“Kalau resisten muncul, tidak semua pergantian obat langsung cocok. Butuh pemeriksaan viral load dan konsultasi dokter. Formulasi obat pengganti jadi lebih sulit,” jelasnya.
Di sisi kebijakan, penanganan HIV tidak bisa dibebankan pada satu institusi saja.
Citra menegaskan, pengendalian kasus harus melibatkan ekosistem sosial yang lebih dekat ke ODHA dan populasi kunci.
Pemerintah, kata dia, perlu menggandeng komunitas, LSM, hingga relawan pendamping yang selama ini menjadi kepanjangan tangan sistem di lapangan.
“HIV ini masalah kompleks. Screening perlu terus digencarkan kemudian pendampingan pasca-terdeteksi juga perlu. Penting juga untuk menyosialisasi untuk menurunkan stigma yang masih mengakar,” pungkasnya. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh