Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Banjir Bedadung Makin Parah! Ahli Unej Ungkap Penyebab Utama dan Solusi Reforestasi yang Paling Efektif

Yulio Faruq Akhmadi • Selasa, 25 November 2025 | 13:50 WIB

SOSIALISASI: Entin Hidayah menyampaikan hasil penelitian yang membahas banjir.
SOSIALISASI: Entin Hidayah menyampaikan hasil penelitian yang membahas banjir.

Radar Jember - Fakta yang terjadi, Sungai Bedadung saat ini kerap banjir bahkan meluap.

Ini terjadi karena kondisi pohon di hulu DAS Bedadung semakin berkurang. Lantas apa yang perlu dilakukan?

Frekuensi banjir di daerah aliran sungai (DAS) Bedadung tercatat mengalami peningkatan dalam dua dekade terakhir.

Data analisis citra sentinel 2 menunjukkan tutupan hutan di kawasan tersebut berkurang 5 persen, sejak tahun 2017.

Penurunan vegetasi itu diikuti kenaikan debit limpasan rata-rata sekitar 5,5 persen di sejumlah sub-DAS.

Menurut Profesor Teknik Sumber Daya Air Universitas Jember, Entin Hidayah, perubahan tutupan lahan menjadi penyebab utama meningkatnya volume aliran permukaan.

Ini yang membuat DAS Bedadung sering banjir.

“Setiap hujan deras, limpasan sekarang jauh lebih besar sehingga aliran menuju hilir semakin cepat dan memicu banjir lebih sering,” ujarnya.

Menurut Entin, salah satu langkah paling efektif adalah penerapan solusi berbasis alam (nature-based solutions/NbS). Reforestasi dinilai mempunyai efek signifikan.

Dengan menambah tutupan hutan sebesar 5 persen, debit puncak dapat ditekan hingga 3 persen.

“Pohon meningkatkan infiltrasi, mengurangi limpasan, dan menambah cadangan air tanah. Dampaknya jangka panjang tetapi paling stabil,” jelasnya.

Selain reforestasi, infrastruktur retensi juga berperan penting.

Kolam retensi seluas 0,0625 kilometer persegi terbukti mampu mereduksi debit puncak sebesar 8,15 persen.

“Prinsipnya menahan limpasan sebelum mencapai hilir. Namun ketersediaan lahan untuk membangun kolam atau embung jadi tantangan,” kata Entin.

Opsi lain adalah pembangunan bendung. Infrastruktur ini memberikan efek reduksi banjir secara cepat terutama pada sungai berkemiringan tinggi seperti Bedadung.

“Bendung memberi manfaat ganda, memperlambat aliran ke hilir sekaligus meningkatkan ketersediaan air irigasi. Tapi biayanya lebih besar,” tambahnya.

Entin menilai kombinasi tiga pendekatan reforestasi, kolam retensi, dan bendung menjadi solusi paling efektif secara hidrologis.

Bendung mengendalikan aliran jangka pendek, sedangkan reforestasi memulihkan kestabilan DAS dalam jangka panjang.

“Penggabungan strategi terbukti paling komprehensif dari hulu sampai hilir,” tegasnya.

Ia menyebut pemerintah telah menjalankan sejumlah langkah, seperti rehabilitasi wilayah hulu, tengah, hingga hilir, pembangunan embung dan infrastruktur pengendali banjir, pengetatan tata ruang, serta perawatan saluran dan drainase.

“Pengelolaan DAS harus holistik dan melibatkan PU Bina Marga, BPBD, DLH, Perhutani, Dinas Pertanian, sampai pemerintah desa,” ujarnya. (yul/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Sungai Bedadung #Jember #BPBD Agam #bina marga #UNEJ #Daerah Aliran Sungai (DAS) #DLH #perhutani