Radar Jember - Capaian investasi di Jember hingga November 2025 menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Realisasi investasi bahkan melampaui target yang ditetapkan pemerintah daerah, khususnya dari sektor real estate.
Tren kenaikan ini diproyeksikan berlanjut pada 2026 seiring bertambahnya pelaku usaha yang masuk ke daerah.
Pemerintah daerah juga terus memperbaiki layanan perizinan untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jember Tita Fajar Ariyatiningsih mencatat, realisasi investasi 2025 sudah mencapai Rp 2,3 triliun.
Jumlah ini melebihi target Pemkab yakni Rp 1,8 triliun.
Sektor perumahan menjadi penyumbang terbesar, dengan 490 usaha tercatat berinvestasi.
Tita menyebut masih ada sejumlah perusahaan yang belum melaporkan perkembangan investasi.
Penyebabnya kurangnya pemahaman administrasi dari pemilik usaha.
Meski demikian, pendampingan telah dilakukan agar laporan dapat masuk pada triwulan IV.
Dia menambahkan, untuk tahun 2026, target investasi dinaikkan.
Alasannya sudah banyak usaha baru berdiri di Bumi Pandalungan ini.
"Kami menaikkan target investasi pada tahun 2026 sebesar Rp 1,9 triliun," ungkapnya.
Selain itu, penanaman modal asing (PMA) juga menunjukkan perkembangan baik.
Dengan melibatkan 119 PMA sepanjang 2025. PMA menjadi penyumbang terbanyak dari total investasi di Jember.
"Uang yang masuk dari PMA selama 2025 tercatat Rp 1,6 triliun,” imbuh Tita.
Sementara itu Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto memberikan apresiasi terhadap capaian realisasi investasi itu jauh melampaui target awal.
Namun, pihaknya juga menyoroti banyaknya persoalan pada sektor perumahan yang selama ini menjadi kontributor terbesar investasi.
Temuan lapangan menunjukkan sejumlah proyek perumahan bermasalah, terutama terkait penggunaan lahan produktif dan sistem irigasi.
Persoalan lain yang ditemukan adalah adanya pembangunan perumahan yang merusak sempadan sungai hingga memicu penyempitan aliran dan banjir di wilayah hilir.
Dewan menilai pengawasan harus diperketat agar investasi besar tidak keluar dari aturan tata ruang dan lingkungan.
"Kami tegaskan bahwa investasi harus tetap membawa manfaat bagi masyarakat, bukan menimbulkan persoalan baru. Ini menjadi PR agar investasi tetap terjaga dan tidak melanggar aturan,” tegasnya.
Ke depan, DPRD mendorong agar investasi tidak hanya bertumpu pada sektor perumahan, tetapi juga diarahkan pada sektor prioritas daerah.
Sektor pangan disebut sebagai penyumbang terbesar PDRB Jember, yakni 24,7 persen. Sehingga perlu mendapat fokus pengembangan.
Selain itu, sektor UMKM juga dinilai berpotensi tumbuh lebih besar apabila hambatan-hambatan yang ada dapat diselesaikan.
“UMKM harus naik kelas dan tidak terus berada pada skala mikro,” pungkasnya. (kin/nur)
Pergerakan Angka Investasi di Jember:
Tahun Jumlah Investasi
2025 Rp 2,3 triliun (sampai Pertengahan November 2025)
2024 Rp 1,2 triliun
2023 Rp 1,1 triliun
2022 Rp 6,9 triliun
2021 Rp 516,98 miliar
SUMBER: Diolah dari berbagai sumber serta LKPJ Bupati Jember.
Editor : Imron Hidayatullahh