Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Antara FOMO dan Kebutuhan, Gen Z Mudah Terjerat Pinjol? Berikut Kata Kepala OJK Jember

M Adhi Surya • Sabtu, 22 November 2025 | 19:09 WIB
“Saya pikir OJK ini bukan gagap mengatasi persoalan pinjol. Tapi, setengah hati. Memberikan setengah hati.” Abdil Furqon - Direktur Eksekutif LAKJ
“Saya pikir OJK ini bukan gagap mengatasi persoalan pinjol. Tapi, setengah hati. Memberikan setengah hati.” Abdil Furqon - Direktur Eksekutif LAKJ

TEGALBOTO, Radar Jember – Lonjakan debitur pinjaman online di kelompok usia muda dinilai semakin mengkhawatirkan.

Fenomena ini tidak lepas dari dorongan fear of missing out (FOMO) serta perilaku konsumtif berbasis tren digital.

Data nasional mencatat 60 persen debitur pinjol berasal dari rentang usia 19 hingga 34 tahun, yang berarti mayoritas adalah Gen Z.

Kelompok ini dinilai paling rentan mengambil keputusan finansial secara cepat tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang.

Kepala OJK Jember, Mohammad Mufid, mengatakan digitalisasi keuangan memang membuka banyak peluang, tetapi sekaligus menghadirkan ancaman baru.

Kemudahan layanan yang serba instan membuat mahasiswa dan anak muda kerap tergoda melakukan transaksi tanpa perhitungan matang.

“FOMO dan impulsive buying itu nyata. Dan fakta bahwa 60 persen debitur pinjol adalah Gen Z harus menjadi alarm,” tegasnya pada kegiatan mengkampanyekan kecerdasan finansial di kalangan mahasiswa di Unej.

Mufid menjelaskan bahwa risiko digital yang mengintai tidak hanya terkait pinjaman online, tetapi juga ancaman penyalahgunaan data pribadi.

Karena itu, OJK memperkuat pengawasan, edukasi, sampai pemberantasan keuangan ilegal sebagai langkah antisipatif untuk melindungi masyarakat, terutama mahasiswa.

“Data itu aset. Sekali bocor, dampaknya panjang. Mahasiswa harus tahu cara melindungi diri di ekosistem digital,” ujarnya.

Menurutnya, banyak mahasiswa yang terjerat pinjol bukan karena kebutuhan mendesak, melainkan karena dorongan konsumsi non-esensial yang dipicu lingkungan digital.

Tren, rekomendasi influencer, hingga tekanan untuk menjaga gaya hidup membuat batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur.

Mufid mendorong mahasiswa lebih berhati-hati memilih layanan keuangan, mengenali ciri-ciri pinjol ilegal, serta memprioritaskan kebutuhan dasar dibanding tekanan untuk selalu mengikuti arus.

Pihaknya menegaskan bahwa literasi keuangan harus diperkuat, terutama di lingkungan kampus yang menjadi titik strategis pembentukan perilaku finansial generasi muda.

“Kami berharap mahasiswa dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dan tidak mudah terbawa arus FOMO yang berujung pada jeratan pinjaman online berisiko tinggi,” pungkasnya. (dhi/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #pinjol #fomo #ojk #Gen Z