Radar Jember - Di tengah derasnya arus teknologi pertanian modern, SMK Negeri 5 Jember memilih menengok ke belakang.
Melalui Festival Tani Kuno, sekolah ini berusaha mengingat kembali akar tradisi bertani dan nilai-nilai yang pernah diajarkan generasi terdahulu.
Sarasehan Museum Kaliber ini menghadirkan alumni serta tokoh di bidang pertanian.
Sarasehan bertema “Mengenal Akar, Merangkai Masa Depan” menjadi bagian paling menarik dari kegiatan itu.
Dua narasumber, yakni Kepala SMKN 5 Jember Nanda Wiratama Miftakhul Fauzi dan Owner Nucindo Group Slamet Riyadi, berbagi pandangan soal perjalanan pendidikan pertanian dari masa ke masa.
“Kami ingin mengenalkan kembali semangat dasar pertanian sebelum era modern,” kata Slamet, yang juga alumni SMT Pertanian Jember angkatan 1993.
Ia menilai hal itu penting dikenalkan lagi kepada siswa agar tidak kehilangan akar.
Slamet menambahkan, kegiatan menulis cerpen atau dongeng tentang pertanian menjadi cara sederhana menanamkan kesadaran sejarah.
Melalui karya tulis, siswa dapat melihat bagaimana pertanian tumbuh dari kerja keras dan kreativitas generasi sebelumnya.
“Kalau dulu kami belajar dengan alat sederhana, sekarang tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai itu,” ujar lelaki yang juga bagian dari Forum Alumni Brawijaya 55 (FAB55).
Kepala SMKN 5 Jember, Nanda Wiratama, menyebut, festival ini bukan sekadar peringatan ulang tahun museum, melainkan langkah awal membangun tradisi baru di lingkungan sekolah.
Menurutnya, Museum Kaliber menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan perkembangan teknologi pertanian saat ini.
“Kami ingin kegiatan ini terus berlanjut dan menjadi agenda tahunan,” katanya.
Ke depan, Festival Tani Kuno bisa menjadi agenda tahunan Museum Kaliber sebagai ajang pengenalan sekolah dan museum.
Sekaligus menjadi wadah bertukar gagasan tentang dunia pertanian masa depan. (kin/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh