JEMBER – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember terus berinovasi menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Tahun ini, Dinkes menggulirkan program pendampingan ibu hamil (bumil) dengan pola jemput bola, di mana tenaga kesehatan (nakes) turun langsung dari rumah ke rumah untuk memantau kondisi bumil di seluruh wilayah.
Program ini menjadi proyek percontohan (pilot project) yang dimulai dengan 212 nakes di enam Puskesmas, mencakup wilayah Andongsari, Jelbuk, dan Silo. Ke depan, total 1.200 nakes akan diterjunkan hingga 2026.
Baca Juga: Salah Satu Penyebab AKI dan AKB Jember Kasusnya Tertinggi se-Jawa Timur
“Dari target 1.400 lebih sasaran bumil, yang berhasil kami dampingi mencapai 1.313 ibu hamil. Kami juga menemukan 206 bumil baru,” ujar Plt Kepala Dinkes Jember Akhmad Helmi Luqman, Selasa (28/10).
Dari hasil skrining, ditemukan sekitar 50 ibu hamil dengan risiko tinggi (bumil risti). Kasus terbanyak berada di wilayah Andongsari, Silo, dan Jelbuk.
Faktor risiko yang paling sering muncul antara lain usia di atas 35 tahun, obesitas, usia terlalu muda, postur tubuh kecil, hingga riwayat persalinan bermasalah.
“Yang sering menjadi kendala adalah histori medis yang tidak terdeteksi, terutama bagi bumil yang sebelumnya tinggal di luar Jember. Karena itu kami minta masyarakat aktif memeriksakan diri dan jujur pada petugas,” jelasnya.
Baca Juga: Kasus HIV di Jember Didominasi Usia Produktif, Puger Jadi Wilayah Tertinggi
Setiap nakes diwajibkan mencatat hasil pendampingan melalui buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Data tersebut dikirim dalam bentuk digital kepada dokter spesialis kandungan dan anak di Puskesmas untuk mendapat tindak lanjut.
“Alhamdulillah, para dokter spesialis di Jember membentuk pokja penurunan AKI. Mereka meluangkan waktu untuk konsultasi dengan dokter-dokter Puskesmas,” kata Helmi.
Program ini tak berhenti di situ. Dinkes juga menyiapkan mobil home care untuk memfasilitasi rujukan bumil risti ke rumah sakit apabila Puskesmas tidak mampu menangani.
Helmi berharap langkah kolaboratif ini mampu menekan risiko kematian ibu dan bayi secara signifikan. “Harapannya, semua bumil di Jember bisa mendapat pendampingan tepat agar melahirkan dengan aman dan sehat,” ujarnya.(yul)
Editor : M. Ainul Budi