Radar Jember - Kota Jember tak hanya riuh dengan aktivitas kampus dan aroma kopi.
Di balik hiruk-pikuk itu semua, tersembunyi sebuah kisah gelap yang dimainkan di layar-layar ponsel.
Mereka para kupu-kupu malam, yang menjajakan kehangatan sesaat melalui aplikasi kencan, bertaruh di antara tuntutan hidup dan nurani.
Gerimis menjelang dini hari saat itu belum juga reda, membuat siapa pun yang menahan hawa dingin ingin segera tarik selimut.
Namun di beberapa sudut-sudut sempit gang di jantung kota Jember, menjelang dini hari, adalah waktu yang mungkin paling dinanti bagi sebagian orang.
Seperti perempuan kupu-kupu malam ini. Di sebuah gang lorong, kawasan Jalan Karimata hingga Jalan Jawa, ada mereka yang menawarkan jasa kencan cinta satu malam dengan para pria-pria hidung belang dan membutuhkan pelampiasan nafsu.
Tidak seperti di lokalisasi seperti halnya eks lokalisasi Besini Puger, mereka senyap tapi terang-terangan menjalankan bisnis lendir ini melalui aplikasi kencan di smartphone.
Perempuan-perempuan ini tidak semua berangkat karena faktor ekonomi semata, namun ada pula yang karena tuntutan untuk memenuhi gaya hidup. Sebagian dari mereka masih usia produktif, dari 22 -35 tahun.
Salah satunya adalah VT, ia berusia 28 tahun dan fresh graduate. Perempuan dengan ramah senyumnya itu terlihat di pojok lorong, mengutak-atik handphone seolah ada yang ia tunggu.
Bukan lain bukan tidak, tentu calon tamunya.
Ia diketahui bukan berasal dari pelosok desa/kelurahan sekitar kota, tapi kelahiran dari kota tetangga sebelah barat.
Sejak tahun 2015, ia sudah menginjakkan kaki di Jember, membawa mimpi seorang mahasiswi.
Kepindahannya kala itu mengikuti sang ayah, seorang abdi negara yang bertugas di kota ini. Kini, orang tuanya telah kembali ke kampung halaman sejak sekitar setahun lalu, namun memilih bertahan.
"Ga enak balik, udah kerasan di Jember," katanya mengawali obrolan, saat ditemui dini hari kemarin (24/10).
Siang hari, ia bekerja di sebuah rumah kecantikan, mencoba menjalani hidup perempuan normal.
Namun, ketika malam merayap, berganti peran.
"Aku siangnya kerja, jadi cuma malam aja yang kaya gini," katanya.
Di balik penerangan remang kamar kosnya, jarinya lincah membalas pesan di aplikasi kencan, menjadwalkan pertemuan, dan menentukan tarif untuk layanan yang ia sebut kencan satu malam.
Dalam setiap layanan bercinta, tarifnya bervariasi, dari yang ekonomis seharga Rp 150 ribu untuk perempuan yang sudah cukup tua.
Namun, untuk yang muda-muda, biasanya mulai Rp 200 ribu hingga kelas premium mencapai Rp 700 ribu ke atas, tergantung durasi dan layanan yang disepakati.
Short time, istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan durasi bercinta dalam waktu singkat, satu kali ejakulasi sang pelanggan. Biasanya hanya berdurasi tidak lebih dari 5 menitan.
Transaksi ini nyaris tak terendus, mengandalkan kerahasiaan kamar kos, atau homestay yang disewa, dengan rate harga mulai Rp 600 ribuan per bulan.
"Kadang ada orang yang meminta ‘main’ ke hotel, ya aku ikuti, tapi beda tarif, itu bisa Rp 500 ribu," jawabnya, diselingi tawa.
Di dalam ruangan kamar 2x2 meter itu menjadi saksi bisu, tempat ia "memadu kasih" layaknya suami istri dengan pria-pria haus nafsu yang tak pernah dikenalnya.
"Ini kamar khusus untuk pelanggan, kalau kamarku sendiri di sebelahnya," aku dia.
Tak ada barang branded di dalamnya, hanya ada kipas angin, lemari kosong, dan kasur spring bed tanpa dipan serta beberapa bantal.
Tisu, body lotion, beberapa botol minuman tergeletak di sana sini dan tak ketinggalan juga ada kondom.
"Pokok kalau aku main, semua pelanggan aku wajibkan pakai kondom," katanya, sambil kembali fokus ke layar handphone-nya.
Bukan tanpa alasan, kuliahnya yang di bidang kesehatan sedikit menyadarkan ia arti tentang menjaga kesehatan.
Ia kerap dihantui penyakit mematikan lantaran seringnya berganti-ganti pasangan untuk berhubungan badan itu. Meski ia ditawar mahal, berani menolaknya.
"Apalagi Jember ini, kasus HIV tinggi, takut lah, makanya jaga-jaga aja," aku perempuan berkacamata ini.
Untuk menjaga kelancaran bisnis gelap ini, beberapa temannya bahkan menyewa kawan pria yang bertugas untuk keamanan.
Khusus untuk memastikan segalanya berjalan mulus, terutama saat melayani pelanggan yang bergaya elite tapi enggan mau membayar.
"Ya mas-mas itu nanti yang mengeksekusi kalau ada pelanggan yang ga mau bayar," imbuhnya.
VT bukanlah perempuan tanpa pendidikan. Ia, dan beberapa temannya, justru lulusan fakultas favorit, bahkan dari jurusan Keperawatan di salah satu perguruan tinggi di Jember.
Motif untuk memenuhi gaya hidup, atau mungkin yang lebih mendasar: kebutuhan, menjadi alasannya terjerumus.
Jauh di lubuk hatinya, VT menyimpan kerinduan untuk menyudahi semua ini, kembali menjadi perempuan normal. Ia pernah menikah, dan dari pernikahan yang berakhir di meja perceraian itu, lahirlah seorang anak.
Saat ini, sang buah hati berada dalam asuhan neneknya di kampung.
VT bekerja banting tulang, siang dan malam, untuk memenuhi kebutuhan pribadinya dan sesekali membunuh rindu dengan mengirimkan sedikit uang untuk si kecil. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh