Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tak Sekadar Nada, tapi Cinta Budaya: Perjalanan Al Azhiva, Penabuh Gamelan dari Kampus UDS Jember

M Adhi Surya • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 13:10 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: Al Azhiva Azzahra Wb, mahasiswi semester tiga FEB UDS Jember, menjadi penabuh gamelan UKM Karawitan UDS.
LESTARIKAN BUDAYA: Al Azhiva Azzahra Wb, mahasiswi semester tiga FEB UDS Jember, menjadi penabuh gamelan UKM Karawitan UDS.

Radar Jember - Dentuman lembut gamelan terdengar di antara warna emas dan merah yang mendominasi ruangan latihan.

Di tengah deretan gong dan saron, seorang perempuan muda duduk dengan tenang.

Jas almamater biru toska yang ia kenakan kontras dengan nuansa klasik gamelan di sekitarnya.

Tangannya cekatan menabuh demung, senyumnya tenang, seperti sedang berbincang dengan nada-nada tua yang diwariskan leluhur.

Dialah Al Azhiva Azzahra Wb, mahasiswi semester tiga Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas dr Soebandi (FEB UDS) Jember.

Zhiva, sapaan akrabnya memulai perjalanannya di dunia karawitan sejak duduk di bangku kelas 6 SD.

Saat itu, ia mengaku belajar karena dorongan orang rumah.

“Awalnya karena disuruh, tapi lama-lama kok seru juga,” ujarnya sambil tersenyum.

Sejak saat itu, suara gamelan seakan menjadi bagian dari hidupnya.

Ia sempat berhenti sejenak, lalu kembali aktif saat SMP kelas 8, dan hingga kini tak pernah benar-benar meninggalkannya.

Bagi Zhiva, demung adalah alat yang paling istimewa.

Bukan hanya karena ia telah memainkannya sejak awal, tetapi karena dari sanalah ia belajar kesabaran dan ketelitian.

“Saya paling nyaman dengan demung. Dari awal belajar sampai sekarang, rasanya sudah menyatu,” katanya.

Setiap nada yang dihasilkan dari bilah logam itu, baginya, membawa ketenangan tersendiri.

Menurutnya, mungkin dulu, dunia karawitan sering dianggap sebagai ranah laki-laki. Namun, kini keadaan mulai berubah.

Zhiva melihat semakin banyak perempuan yang ikut menabuh gamelan.

“Sekarang hampir semua sanggar di Jember punya pengrawit perempuan. Jadi sebenarnya tidak ada perbedaan. Yang penting serius berlatih, bukan soal gender,” tuturnya.

Pandangan itu menjadi semangatnya untuk terus menepis stereotip lama dan membuktikan bahwa harmoni tidak mengenal batas jenis kelamin.

Cinta Zhiva pada seni tradisi rupanya tumbuh dari akar yang dalam. Ia berasal dari keluarga pecinta seni.

Rumahnya bahkan menjadi tempat berdirinya sanggar wayang kulit milik sang kakek, Miswadi.

“Sejak kecil saya sudah terbiasa dengar suara gamelan dan melihat dalang memainkan wayang. Dari situ saya belajar mencintai kesenian,” ujarnya.

Dari karawitan, ia belajar banyak hal yang tak diajarkan di kelas.

“Gamelan itu mengajarkan kerja sama dan keselarasan. Tidak bisa dimainkan sendiri, harus peka dengan pemain lain,” ucapnya.

Menurutnya, harmoni gamelan mencerminkan kehidupan, setiap orang punya peran, dan hanya dengan kebersamaan, keindahan bisa lahir.

Berbagai pengalaman tampil sudah ia lewati, mulai dari mengiringi dalang muda Jember hingga dalang senior dari Lumajang.

“Setiap kali tampil, rasanya berbeda. Ada kebanggaan tersendiri karena bisa ikut melestarikan budaya,” ujarnya.

Pengalaman-pengalaman itu, katanya, menjadi energi untuk terus berkarya dan belajar.

Meski aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karawitan, Zhiva tetap mampu menjaga keseimbangan dengan dunia akademik.

Latihan rutin dua kali seminggu di malam hari membuatnya punya cukup waktu untuk kuliah dan menyelesaikan tugas.

“Selama bisa mengatur waktu, semuanya berjalan lancar,” katanya ringan.

Zhiva sadar, tantangan terbesarnya adalah bagaimana membuat generasi muda tetap mencintai seni tradisi.

Ia berharap lebih banyak anak muda yang berani mencoba memainkan gamelan dan menaruh minat pada karawitan.

“Kalau dikemas menarik, saya yakin banyak yang mau ikut. Yang penting jangan hilangkan pakemnya,” pungkasnya. (dhi/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #gamelan #karawitan #UNIVERSITAS dr SOEBANDI