Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Siswa Alergi Terdata Rapi, SD Muhammadiyah 1 Jember Sudah Kelola Makan Gratis sejak 2018

Yulio Faruq Akhmadi • Jumat, 17 Oktober 2025 | 13:00 WIB
TERTIB: Siswa SD Muhammadiyah 1 Jember mengantre untuk mengambil makan siang, di ruang kelas kemarin.
TERTIB: Siswa SD Muhammadiyah 1 Jember mengantre untuk mengambil makan siang, di ruang kelas kemarin.

Radar Jember – Program makan bergizi gratis (MBG) belum menyentuh seluruh siswa di Jember dan progresnya tak mencapai sepuluh persen.

Namun, keluhan makanan basi pernah terjadi, bahkan ada yang diduga keracunan.

Di SD Muhammadiyah 1 Jember ini, meski belum dapat MBG, namun siswa sudah makan di sekolah sejak 2018 silam. Hasilnya, data siswa lebih detail, bahkan siswa yang alergi makanan tertentu telah terdata dengan rapi.

Sejauh ini program MBG yang dijalankan pemerintah masih jauh dari harapan, namun di banyak lokasi telah sukses. Meski begitu, sekolah ini bisa menjadi contoh agar MBG pemerintah semakin lebih baik.

Apalagi, itu untuk sajian anak PAUD hingga SMAN sederajat. Di SD Muhammadiyah 1 Jember ini penyediaan makanan langsung dilakukan di dapur sekolah. Ini telah berjalan sejak 2018.

Makanan sehat dan bergizi untuk siswa juga telah terdata sedemikian rapi. Sekolah telah mengantongi nama-nama siswa yang alergi ikan, atau alergi makanan jenis lain.

Pengalaman bertahun-tahun menyediakan makanan itu lah membuat sekolah yang kini memiliki 650 siswa mampu memberikan menu terbaik bagi siswanya.

Alhasil, tak ada makanan yang dibuang oleh siswa, karena makanan yang disajikan adalah makanan yang disukai siswa.

Saat sekolah menggoreng telur dan ada siswa yang alergi telur, maka sekolah mencari solusi lain untuk menjadi pengganti telur.

Wakil Kepala SD Muhammadiyah 1 Jember Danik Prastiyani menyampaikan, penyediaan makan siang dilakukan sejak awal sekolah sistem full day.

Oleh karena itu, sekolah merasa bertanggung jawab untuk menjamin makan siang siswa.

 “Kalau makanan di luar kan kita tidak tahu kesehatannya. Jadi sejak 2018 kami mengupayakan untuk menyediakan makan siang. Sebelum membangun dapur, kami studi banding ke SD Al Baitul Amin,” tuturnya.

Danik menceritakan, program tersebut sempat terhenti saat Covid-19 merebak pada 2020. Setelah pandemi mereda, sekolah sempat melanjutkan dengan bekerja sama dengan katering.

Namun, muncul masalah karena makanan yang datang sudah dingin dan tidak segar, masalah yang juga kerap terjadi pada MBG.

“Jadi karena siswa tidak cocok dengan makanan yang sudah dingin, akhirnya kami kembali pakai dapur sendiri,” ujarnya.

Saat ini terdapat 9 petugas dapur yang memasak sekitar 650 porsi setiap harinya.

Mereka terbagi menjadi satu orang yang bertugas berbelanja di pasar, empat orang memasak, dan empat lagi mendistribusikan makanan ke setiap kelas.

Petugas merupakan warga sekitar sehingga secara tidak langsung juga membuka lapangan pekerjaan.

Proses memasak dilakukan secara efisien agar makanan tetap segar dan hangat. Dini hari petugas berbelanja sayuran, kemudian bahan dipotong agar mudah dibersihkan dan diolah.

Bahan lain seperti daging dikirim oleh mitra yang telah bekerja sama.

Makanan matang sekitar pukul 11.00 dan langsung didistribusikan secara bertahap. “Kelas lantai bawah makan jam 11, yang lantai dua jam 12,” jelas Danik.

Banyak keuntungan yang didapat dengan menyediakan makanan dari dapur sekolah. Menu bisa disesuaikan dengan kebutuhan siswa, terutama bagi mereka yang memiliki alergi makanan tertentu.

Sekolah mendata siswa yang memiliki alergi lalu menyiapkan menu pengganti. “Di sini ada yang alergi udang, ada yang alergi makanan laut, ayam potong, itu semua sudah terdata,” katanya.

Selain itu, siswa juga lebih leluasa mengajukan menu favorit mereka. Menurut Danik, menu yang paling banyak diminta siswa adalah rawon, soto, sate, dan capcai.

Makanan cepat saji seperti nugget dan pentol juga sering jadi pilihan.

Untuk menjaga kualitas, tim dapur membuat sendiri nugget maupun bakso yang disajikan. “Dagingnya kami giling ke tempat giling, lalu dimasak sendiri. Jadi bukan beli jadi,” katanya.

Biaya makan siang tersebut juga terjangkau, hanya Rp8.000 per porsi. Bagi orang tua yang keberatan, sekolah memberikan keringanan hingga Rp 5.000.

Bahkan bagi siswa kurang mampu, seperti anak yatim, disediakan secara gratis. “Kembali lagi ke tujuan utamanya: menyediakan makanan sehat untuk para siswa. Tapi tentu saja itu membutuhkan biaya,” pungkas Danik.

Jika suatu saat SD Muhammadiyah 1 mendapat jatah MBG, Danik mengaku belum bisa memastikan apa kebijakan yang akan diambil sekolah.

Apakah akan diambil tanpa menghilangkan dapur sekolah, sehingga dua kali makan. Apakah akan mengambilnya dan cukup mengganti program yang sudah jalan dengan MBG, atau hal lain masih belum diputuskan.

Menurutnya, akan lebih baik jika jatah porsi MBG dapat diberikan dalam bentuk uang tunai, agar bisa dikelola mandiri oleh sekolah dengan sistem yang sudah ada.

 Apalagi, sekolah telah mampu membedakan jenis-jenis makanan termasuk mampu mendata siapa siswa yang alergi dan alergi makanan apa. “Kami belum tau nanti MBG-nya gimana, kalau di sini lebih cocok dalam bentuk rupiah biar kami yang mengolah," tuturnya. (yul/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #Mbg #Menu MBG #Maka Bergizi Gratis #SD Muhamadiyah